Batu Belian Sosai
Batu Belian Sosai
Pada zaman dahulu kala, di masa yang telah lama berlalu, kekuatan para dukun mencapai puncaknya di seluruh negeri. Mereka adalah sosok-sosok yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat luas, memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari. Konon, pada masa itu, terdapat pula berbagai batu belian yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka, mungkin sebagai simbol kekuasaan atau alat ritual bagi para dukun.
Para dukun di masa itu benar-benar merasakan kejayaan yang luar biasa, sehingga sebagian dari mereka mulai diliputi rasa keangkuhan. Mereka merasa diri mereka begitu perkasa dan tak terkalahkan, seolah-olah tiada yang dapat menandingi kemampuan mereka. Kondisi ini menciptakan era di mana manusia seringkali harus menghadapi ancaman dan bahaya yang tak terduga, bahkan ada yang mati dibunuh dan kepalanya diambil oleh orang lain.
Di tengah kejayaan yang melenakan itu, sebuah tragedi menimpa salah satu dukun yang paling berkuasa. Ia dibunuh secara keji oleh pihak yang tidak disebutkan, dan kepalanya diambil secara paksa dalam sebuah peristiwa mengerikan. Peristiwa ini meninggalkan tubuh sang dukun tanpa kepala, sebuah pemandangan yang sangat memilukan dan mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Dalam keputusasaan dan upaya untuk mengembalikan wujudnya, sebuah tindakan ekstrem pun dilakukan terhadap tubuh tanpa kepala itu. Untuk menggantikan kepalanya yang telah tiada, kepala seekor anjing dipotong dengan kejam. Ini adalah sebuah upaya yang bertentangan dengan hukum alam, sebuah tindakan yang nekat demi mengembalikan rupa sang dukun.
Kepala anjing yang telah dipotong itu kemudian disambungkan pada leher tubuh manusia sang dukun yang tak berdaya. Dengan kekuatan yang tidak diketahui, kepala anjing itu berhasil menyatu dengan tubuh, seolah-olah tidak pernah terpisah. Sebuah pemandangan yang ganjil dan mengerikan, namun nyata adanya, kini berdiri di hadapan mereka.
Setelah proses penyambungan yang mengerikan itu, sang dukun mencoba untuk berbicara kembali, berharap suaranya dapat pulih seperti sedia kala. Namun, alangkah terkejutnya semua yang menyaksikan, suara yang keluar dari tubuh manusia itu adalah suara gonggongan anjing yang kasar dan tak lazim. Orang-orang yang melihat dan mendengar kejadian itu tidak dapat menahan tawa mereka, sebuah tawa yang bercampur rasa ngeri, keheranan, dan sedikit ejekan.
Peristiwa ganjil ini, di mana tubuh seorang manusia berbicara dengan suara anjing, seolah memicu kemarahan alam semesta. Seketika itu pula, cuaca buruk yang dahsyat mulai melanda seluruh wilayah tersebut dengan tiba-tiba. Langit menjadi gelap pekat, dan angin bertiup kencang disertai kilat dan guntur, menandakan dimulainya sebuah perubahan besar yang tak terhindarkan.
Cuaca buruk semakin menjadi-jadi, disertai dengan embun yang sangat pekat menyelimuti seluruh daratan, membuat jarak pandang menjadi terbatas. Kabut tebal itu seolah menjadi tirai bagi sebuah transformasi yang tak terelakkan, sebuah permulaan bagi akhir dari segala yang dikenal. Tak lama kemudian, segala sesuatu di sekeliling mulai berubah secara drastis dan menyeluruh, meleburkan bentuk aslinya.
Perubahan itu tidak hanya menimpa satu atau dua hal, melainkan meliputi seluruh makhluk hidup tanpa terkecuali. Binatang-binatang berubah wujud menjadi bentuk lain, dan manusia pun mengalami nasib yang sama. Banyak di antara para dukun yang dulu perkasa dan dihormati, kini turut mengalami transformasi yang tidak terduga, kehilangan jati diri mereka.
Akibat perubahan dahsyat ini, para dukun yang dulunya saling menghormati dan memiliki jaringan kuat, kini tidak lagi saling menghiraukan satu sama lain. Mereka semua telah berubah menjadi wujud yang berbeda-beda, terpisah oleh takdir baru mereka. Beberapa di antara mereka menjelma menjadi lutung dan monyet yang bergelantungan di hutan, jauh dari kehidupan manusia.
Tidak hanya itu, ada pula di antara mereka yang berubah menjadi badak dengan kulitnya yang tebal dan kuat, menjelajah padang belantara. Sebagian lainnya menjadi beruk yang lincah melompat dari satu dahan ke dahan lain, hidup di pepohonan. Seluruh makhluk hidup di wilayah itu benar-benar mengalami metamorfosis yang mengagetkan dan permanen, mengubah lanskap kehidupan.
Dukun yang menjadi pusat cerita ini, yang telah menyambungkan kepala anjing ke tubuhnya, juga tidak luput dari perubahan yang melanda. Ia berusaha melarikan diri dari takdirnya, berlari sejauh mungkin ke arah hulu sungai dengan panik. Namun, di sanalah ia akhirnya berubah wujud, menjadi sebuah batu yang kini dikenal sebagai batu bangkai, sebuah monumen bisu dari kesalahannya.
Di hulu sungai itu, tempat sang dukun berubah, kini berdiri tegak sebuah batu yang disebut batu dukun atau batu bangkai. Batu tersebut menjadi saksi bisu dari peristiwa mengerikan di masa lalu, sebuah pengingat abadi. Bahkan, di sana juga terdapat sebuah bedung, yaitu sejenis parang yang dahulu digunakan oleh para dukun untuk melakukan ritual mereka.
Bedung yang tertinggal itu pun tidak luput dari perubahan dahsyat yang melanda seluruh alam. Alat berdukun itu ikut berubah menjadi batu, kini dikenal dengan sebutan batu ketebung. Semua benda yang berhubungan dengan kehidupan para dukun di masa itu seolah ikut membeku dalam wujud batu, menandai berakhirnya era kejayaan mereka secara total.
Demikianlah ceritanya, sebuah kisah tentang kesombongan yang berujung pada tragedi, sebuah upaya yang mengerikan untuk melawan takdir, dan konsekuensi dari sebuah tindakan yang melanggar batas alam. Kisah ini berakhir dengan jejak-jejak perubahan yang masih dapat ditemukan di hulu sana, di sebuah tempat yang disebut "di pitis". Semua itu menjadi pengingat abadi akan masa lalu yang penuh misteri, keajaiban, dan transformasi yang tak terduga.