Entogong Doni Dikumpulkan oleh Adel

Pak Iyu Dua Sengkumang

Pak Iyu Dua Sengkumang

Pak Iyu Dua Sengkumang

2:52 menit

Sengkumang adalah seorang penduduk yang rajin memasang bubu di sungai atau perairan dekat desanya. Setiap hari, ia berharap bubu yang dipasangnya akan menghasilkan tangkapan yang melimpah. Namun, terkadang bubu tersebut tidak selalu berhasil menangkap ikan sesuai harapannya, bahkan ada kalanya seharian bubu itu kosong melompong.

Sengkumang memasang bubu di sungai

Di sisi lain, ada seorang pria bernama Pak Iyu yang menghadapi masalah pelik di ladangnya. Ladang Pak Iyu selalu menjadi sasaran empuk bagi kawanan kera yang rakus. Setiap hari, kera-kera itu datang dan merusak tanamannya, membuat Pak Iyu merasa tidak pernah tenang di rumahnya sendiri.

Pak Iyu sangat kesal dengan ulah para kera yang terus-menerus mengganggu ladangnya. Ia merasa tidak pernah bisa beristirahat dengan tenang karena harus selalu mengusir kera-kera tersebut. "Bagaimana bisa ladangku selamat jika terus-menerus diganggu kera?" keluhnya dalam hati, memikirkan cara untuk mengusir mereka secara permanen.

Ladang Pak Iyu diserang kawanan kera

Pada suatu pagi, Pak Iyu pergi untuk melihat bubu milik Sengkumang yang terpasang di dekat perairan. Ia berjalan menuju lokasi bubu dengan harapan menemukan sesuatu yang bisa menginspirasi atau membantunya. Ketika tiba di sana, ia melihat bahwa bubu Sengkumang telah menangkap seekor rihek, sejenis ikan atau makhluk air.

Melihat rihek yang terperangkap itu, sebuah ide yang sangat aneh dan tidak biasa muncul di benak Pak Iyu. "Nah, ini dia," katanya pada diri sendiri, "ini untuk memberinya pelajaran." Dengan pemikiran yang ganjil, Pak Iyu kemudian mengambil ikan tersebut dan memasukkannya ke dalam pantatnya sendiri.

Pak Iyu menemukan rihek di bubu Sengkumang

Setelah melakukan tindakan yang sangat ganjil itu, Pak Iyu merasakan sakit yang luar biasa. Ia berjalan menuju ladangnya dengan langkah terhuyung-huyung dan kaki terangkang-angkang karena menahan rasa sakit. Meskipun demikian, rasa sakit itu tak menghentikannya untuk mencoba mengusir kera-kera yang masih berkeliaran di ladangnya.

Pak Iyu berjalan kesakitan menuju ladang

Keesokan paginya, kondisi Pak Iyu semakin memburuk akibat rasa sakit yang tak tertahankan. Ia ditemukan terkapar di tengah ladangnya, masih dengan posisi kaki terangkang-angkang dan tidur terlentang karena kesakitan yang luar biasa. Tak lama kemudian, raja kera, pemimpin kawanan kera yang sering mengganggu ladang, datang menghampirinya.

Raja kera sangat marah melihat keadaan Pak Iyu yang mengenaskan dan tidak masuk akal itu. "Aduh, aduh, pekerjaan apa yang sudah Pak Iyu lakukan ini?" tanya raja kera dengan nada geram dan tidak percaya. Pak Iyu, dalam kesakitannya, menjelaskan bahwa ia telah memasukkan ikan ke dalam pantatnya sendiri.

Pak Iyu tergeletak di ladang, raja kera datang menghampiri

Mendengar penjelasan itu, raja kera kemudian dengan kasar mencabut ikan yang ada di pantat Pak Iyu. Tindakan itu menyebabkan pantat Pak Iyu berdarah-darah dan menimbulkan rasa sakit yang semakin hebat. Tanpa ampun, raja kera mengangkat Pak Iyu yang terluka parah itu ke puncak sebuah pohon yang sangat tinggi, yang dikenal sebagai pohon Sengkurai.

Raja kera mengangkat Pak Iyu ke puncak pohon Sengkurai

Terdampar di puncak pohon Sengkurai, Pak Iyu menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Ia bertanya-tanya siapa gerangan yang telah membawanya ke tempat setinggi itu. Dalam keputusasaan, ia bergumam tentang anak haram dan anak kandung, serta membela anak busung, seolah merangkai penyesalan atas takdirnya yang tidak beruntung. Ia bahkan berjanji akan memberikan yang kecil sebagai anak dan yang semampai sebagai istri bagi siapa saja yang bersedia mengaku membawanya turun, namun siapa yang akan mengaku karena kera yang telah mengangkatnya.

Pak Iyu menangis sendirian di puncak pohon Sengkurai

Entah bagaimana, akhirnya Pak Iyu berhasil turun dari pohon Sengkurai. Ia pulang ke rumah dalam keadaan telanjang dan tubuh yang masih terasa sakit serta berdarah. Istrinya sangat terkejut dan khawatir melihat kondisi Pak Iyu yang mengenaskan. "Ada apa, Pak Iyu? Mengapa bisa sampai seperti ini?" tanyanya cemas dengan suara bergetar.

Dengan suara yang lemah dan menahan sakit, Pak Iyu menjelaskan semua yang terjadi kepada istrinya. "Bagaimana tidak begini, pantatku sudah terluka parah gara-gara mengejar kera ke ladang," ujarnya. Ia melanjutkan, "Kalau tidak kuusir, habis semua padi kita dimakan kera." Ia juga menyalahkan insiden bubu Sengkumang yang membuatnya memasukkan sesuatu ke dalam pantat, dan akhirnya diangkat kera ke puncak pohon.

Pak Iyu juga menambahkan bahwa sebenarnya itu adalah hal yang baik, karena mungkin kera-lah yang mengangkatnya ke ujung Sengkurai. Setelah Pak Iyu menceritakan seluruh kisahnya, ia pun beristirahat di rumahnya yang kini terasa lebih damai. Begitulah akhir dari cerita ini, sebuah kisah dongeng yang unik tentang Pak Iyu dan petualangannya yang tak terduga.

Pak Iyu pulang ke rumah disambut istrinya