Nanga Abai Singkai Dikumpulkan oleh Lili

Batu Inai Pungok

Batu Inai Pungok

Batu Inai Pungok

2:39 menit

Berikut adalah kisah Ibu Pungok, sebagaimana diceritakan turun-temurun. Cerita ini mengisahkan seorang wanita yang terkenal di seluruh negeri, yang namanya masih disebut-sebut hingga kini.

Ibu Pungok yang Terkenal

Seluruh masyarakat mengenal Ibu Pungok, dan semua orang tahu bahwa ia sangat disukai. Nama "Ibu Pungok" sendiri seakan menjadi gelar yang melekat padanya karena ia begitu dicintai banyak orang.

Kisah tentang Ibu Pungok yang begitu disukai masyarakat telah beredar dan bertahan dalam waktu yang sangat lama. Cerita ini telah didengar dari generasi ke generasi, menegaskan reputasinya sebagai sosok yang populer.

Sultan Melihat Ibu Pungok

Suatu hari, seorang Sultan memutuskan untuk melakukan perjalanan mudik. Dalam perjalanannya, Sultan tersebut kebetulan melihat Ibu Pungok.

Namun, apa daya, ketika sang Sultan melihat Ibu Pungok, ia terkejut. Ibu Pungok memiliki koreng di kulitnya, sebuah pemandangan yang membuat Sultan seketika merasa jijik. Matanya bahkan enggan untuk menatap lebih lama pada wanita itu.

Lengkungan Berulang-ulang di Tebidah

Karena perasaan tidak suka yang begitu kuat, Sultan memutuskan untuk segera pulang. Ia kembali menyusuri jalan hingga sampai di sebuah tempat yang dikenal sebagai Lengkungan Berulang-ulang, yang terletak di daerah Tebidah.

Di Lengkungan Berulang-ulang itu, Sultan mengeluarkan perintah yang aneh. Ia meminta agar seruling dimainkan, dan musik seruling itu secara khusus ditujukan untuk Ibu Pungok. Seolah ada maksud tersembunyi di balik permintaan tersebut.

Sultan Kembali Tujuh Kali

Tidak hanya sekali, Sultan kemudian pulang kembali ke istananya, lalu milir lagi ke Lengkungan Berulang-ulang. Di sana, ia kembali meminta seruling dimainkan untuk Ibu Pungok. Tindakan ini diulanginya sampai tujuh kali.

Pada kali yang ketujuh, setelah serangkaian tindakan aneh yang dilakukan Sultan, Ibu Pungok justru melantunkan sebuah pantun. Pantun itu adalah sebuah pernyataan yang penuh makna dan ketegasan.

Ibu Pungok Melantunkan Pantun

Bunyi pantunnya adalah: "Rambutan lanau bayau ini pamali dipotong, potong mau potonglah tunggu berani turun membunuh. Rambutan gurung lates itu pamali dipotong, potong mau potong tunggulah maluh turun membunuh."

Pantun ini mengungkapkan bahwa Ibu Pungok tidak bersedia menikah dengan sembarang orang. Ia mencari seorang raja, seorang pria yang bijaksana, berani, dan memiliki keberanian layaknya seorang "pembunuh" dalam artian seorang pejuang yang gigih dan tegas. Itulah kriteria dan tujuan hidupnya.

Meskipun Ibu Pungok telah menyatakan hatinya dengan jelas melalui pantun tersebut, Sultan tidak mengubah perilakunya. Bahkan, ia terus merasa senang dalam pikirannya, dan kembali memainkan seruling di Lengkungan Berulang-ulang.

Sultan Menusuk Ibu Pungok

Karena situasi yang terus berlanjut seperti itu, dan mungkin karena merasa tertantang atau terhina, Sultan mengambil tindakan yang kejam. Dengan kerisnya, ia menusuk Ibu Pungok.

Jasad Ibu Pungok dan Tempayan Pelet di Air

Ibu Pungok pun meregang nyawa akibat tusukan keris Sultan itu. Setelah meninggal, jasadnya digulingkan begitu saja ke dalam air.

Tidak hanya jasad Ibu Pungok, sebuah tempayan pelet juga dilemparkan ke dalam air yang sama. Tempayan itu, yang dikenal sebagai tempayan pelet, ikut tenggelam bersama jasadnya.

Legenda yang Abadi

Maka dari itulah, nama Ibu Pungok selalu disebut-sebut dan dikaitkan dengan air di Tebidah. Kisah tragisnya menjadi asal mula legenda yang terkenal di daerah tersebut. Demikianlah akhir dari cerita Ibu Pungok.