Nanga Abai Singkai Dikumpulkan oleh Lili

Batu Tangoi

Batu Tangoi

Batu Tangoi

1:46 menit

Pada suatu masa yang lampau, di tengah hiruk pikuk kehidupan dan gejolak zaman, hiduplah seorang pertapa yang sangat tekun. Hatinya dipenuhi oleh sebuah hasrat yang amat besar, sebuah keinginan yang melampaui batas-batas kemanusiaan biasa. Ia ingin mencapai sebuah keadaan yang luar biasa, sebuah pencarian yang akan mengubah takdirnya sendiri.

Tujuan utama dari laku tapanya yang berat itu adalah untuk menemukan jalan menuju keabadian. Sang pertapa bertekad untuk menjadi pribadi yang tidak bisa mati, yang kebal terhadap segala bentuk serangan dan bahaya. Khususnya, ia ingin agar tubuhnya tidak dapat binasa oleh senjata apa pun, baik itu tombak, pedang, maupun panah.

Keinginan untuk menjadi abadi dan kebal senjata ini bukan tanpa alasan yang mendalam dan mulia. Sang pertapa menyadari bahwa ia hidup di zaman yang penuh dengan peperangan dan pembunuhan keji. Ia ingin memiliki kekuatan untuk menghadapi segala bentuk konflik dan pertumpahan darah yang sering terjadi pada masa itu.

Maka, dimulailah perjalanan spiritual sang pertapa yang panjang dan penuh tantangan. Ia memulai laku tapanya dengan tekad yang membara, meninggalkan kehidupan duniawi demi mencari pencerahan tertinggi. Setiap hari ia habiskan untuk bermeditasi dan mengheningkan cipta, berharap mencapai tujuannya yang agung.

Langkah pertama dalam perjalanan sucinya ini membawanya ke sebuah lokasi yang dikenal sebagai "kaki tangga." Di tempat itulah ia memulai laku tapanya, duduk bersila dalam keheningan yang mendalam. Dengan penuh konsentrasi, ia memusatkan pikirannya untuk mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi.

Setelah beberapa waktu lamanya bertapa di kaki tangga, sang pertapa merasa perlu untuk melanjutkan perjalanannya. Ia kemudian berpindah ke sebuah tempat yang lebih sakral, yaitu Penemulo. Di Penemulo, ia melanjutkan laku tapanya dengan intensitas yang semakin meningkat, mencari kedalaman spiritual yang lebih jauh.

Dari Penemulo, sang pertapa akhirnya tiba di tujuan terakhirnya untuk bertapa, sebuah batu besar yang tampak tua dan penuh misteri. Batu itu memancarkan aura yang kuat, seolah menyimpan rahasia alam semesta yang tak terjamah. Di sanalah ia memutuskan untuk mencapai puncak dari laku tapanya yang panjang.

Secara ajaib, karena keberadaan penunggu batu tersebut, sang pertapa kemudian dapat masuk ke dalam batu itu. Ia tidak hanya bertapa di sampingnya, melainkan secara harfiah menyatu dan berdiam di dalam inti batu. Ini adalah sebuah peristiwa yang luar biasa, menunjukkan pencapaian spiritualnya yang tak terduga.

Batu tempat sang pertapa berdiam itu memiliki bentuk yang sangat unik dan khas, berbeda dari batu-batu lainnya. Bagian dasarnya menyerupai tungku yang lonjong, sementara bagian atasnya ditutupi oleh sebuah batu datar. Batu datar ini tampak seperti "tanggui" atau caping yang menghadap ke bawah, memberikan kesan misterius pada tempat persembunyiannya yang sakral.

Di dalam batu yang aneh itu, sang pertapa berdiam diri selama kurun waktu yang sangat lama, jauh melampaui usia manusia biasa. Ia menghabiskan tidak hanya bertahun-tahun, tetapi bahkan beberapa abad lamanya di sana, jauh dari hiruk pikuk dunia luar. Waktu seolah berhenti baginya, saat ia terus menyempurnakan laku tapanya.

Selama berada di dalam batu, sang pertapa telah membuat sebuah janji yang sangat penting dan dinanti-nantikan. Ia berjanji akan keluar dan menampakkan diri pada waktu yang telah ditentukan, yaitu setelah beberapa abad berlalu. Kemunculannya itu akan bertepatan dengan terjadinya peperangan atau pembunuhan besar, di mana ia akan datang untuk membantu.

Waktu terus berjalan, dan janji itu pun dinanti-nantikan oleh mereka yang mengetahui kisahnya. Dikisahkan bahwa pada suatu masa, ketika terjadi kekacauan dan peperangan besar dengan Madura, batu tempat pertapa itu berdiam akhirnya terbongkar. Namun, saat batu itu terbuka, sang pertapa sudah tidak ada lagi di dalamnya.

Kepergian sang pertapa meninggalkan misteri yang mendalam, meskipun ia telah berjanji untuk muncul di waktu yang tepat. Tidak ada yang tahu pasti kapan dan mengapa ia pergi, atau apakah ia telah memenuhi janjinya dalam bentuk lain yang tak terlihat. Kisah tentang pertapa yang mencari keabadian ini pun berakhir dengan tanda tanya, meninggalkan warisan yang penuh teka-teki bagi generasi selanjutnya.