Cara Beuma
Cara Beuma
Kisah sejarah tata cara berladang pada zaman dahulu dimulai dengan persiapan yang matang sebelum menebas. Para petani menyiapkan segala sesuatu, mulai dari alat-alat pertanian hingga berbagai macam perlengkapan atau tetek bengek yang diperlukan. Proses ini diawali dengan melihat dan meninjau lokasi hutan yang akan diolah untuk dijadikan ladang baru.
Pada hari pertama, pekerjaan dilakukan sedikit demi sedikit dan tidak boleh langsung dikerjakan secara penuh. Luas lahan yang dikerjakan mungkin hanya berkisar dua atau tiga meter saja sebagai tanda pembuka. Setelah bekerja sebentar, petani akan pulang ke rumah untuk beristirahat sekaligus mencari pertanda melalui mimpi pada malam harinya.
Pencarian angan-angan atau mimpi ini bertujuan untuk melihat apakah wilayah tersebut bagus dan layak untuk diolah. Jika dalam mimpi tersebut tidak ada kendala atau firasat buruk, berarti lahan itu memang berjodoh untuk diambil dan dijadikan ladang. Keyakinan melalui mimpi ini menjadi pegangan penting bagi masyarakat sebelum benar-benar membuka lahan secara luas.
Memasuki hari kedua, rutinitas yang dilakukan masih serupa dengan hari sebelumnya di lokasi yang sama. Petani menebas semak belukar sedikit demi sedikit dan kembali pulang untuk mencari mimpi pada malam kedua. Hal ini dilakukan untuk memastikan kembali bahwa keputusan mengambil lahan tersebut sudah benar-benar mantap dan aman dari gangguan gaib atau alam.
Pada hari ketiga, pekerjaan tetap dilakukan dengan porsi yang terbatas, namun petani mulai membawa perlengkapan pelengkap lainnya. Sambil mengasah pisau, petani membawa serai, pangkal tebu, dan meletakkan batu di lokasi tersebut sebagai tanda penguasaan lahan. Aturan tetap dijaga dengan ketat, di mana petani dilarang keras bekerja secara penuh dalam satu hari selama masa percobaan tiga hari ini.
Setelah tiga hari berturut-turut merasa tidak ada kendala dalam angan-angan dan mimpi, barulah lahan tersebut resmi diambil untuk diolah menjadi ladang. Pekerjaan mulai dilakukan secara penuh atau full dalam menebas hutan tersebut. Pada tahap ini, petani membawa ayam serta segala peralatan pendukung lainnya untuk memulai penanaman tanaman awal seperti keladi, serai, dan tebu.
Kegiatan selanjutnya adalah meletakkan onsah dan terus melanjutkan penebasan hingga selesai secara keseluruhan. Setelah seluruh semak ditebas, tahap berikutnya adalah penebang kayu-kayu besar yang ada di area tersebut. Selesai menebang, diadakan ritual khusus dengan membuat kelongkang yang terbuat dari bambu sebagai bagian dari permohonan izin kepada penguasa alam.
Dalam ritual ini, ada ayam yang disembelih dan ada pula ayam yang disiapkan dalam keadaan hidup. Kelongkang tersebut digantung di bagian atas, sementara di bagian bawah diisi dengan rancak sebagai sesajen. Petani kemudian memanjatkan doa kepada Tuhan Allah yang di atas dan kepada Puyang Gana sebagai sumber kekuatan yang ada di bawah bumi sesuai kepercayaan zaman itu.
Setelah ritual pemotongan ayam selesai, bulu ayam dibersihkan dan isinya dimasukkan ke dalam kelongkang tersebut. Bagian lain dari sesajen berupa kelancak dikubur di dalam tanah sambil memanggil kekuatan alam. Saat malam tiba, petani memanggil burung-burung peladang seperti burung ketukong, iram, gurak, dan tinyau yang semuanya dipanggil berpasangan dengan istri mereka.
Sebelum pulang dari ladang pada malam hari, petani menabur beras sebagai simbol mengembalikan semangat burung-burung tersebut. Sambil berhitung dari satu sampai sebelas menggunakan kata awalan sak, petani berdoa agar burung-burung itu makan dengan kenyang dan tidur dengan nyenyak. Harapannya agar mereka membantu membawa hasil panen yang berlimpah sebesar wadah tengkalang ke pundak para petani.
Prosesi berlanjut dengan mengibaskan tangan ke tanah untuk memanggil Puyang Gana agar menikmati sesajen yang telah disiapkan. Setelah masa penebangan selesai dan area ladang mulai dibersihkan dari sisa-sisa kayu, tahap berikutnya adalah membakar lahan. Petani juga menyiapkan bambu yang diisi beras atau bokat untuk dimasak di tengah api pembakaran sebagai umpan robak untuk mengundang kehadiran orang-orang.
Jika hasil pembakaran hangus merata, petani bisa langsung memulai proses nugal atau melubangi tanah untuk menanam padi. Namun, jika ada bagian yang tidak terbakar habis, petani harus melakukan proses manok, yaitu menumpuk kembali kayu sisa untuk dibakar ulang. Pada zaman dahulu, penentuan waktu membakar ini jarang meleset karena para petani sangat patuh pada hitungan bintang dan bulan peladang.
Saat tiba waktunya nugal, segala macam perlengkapan disiapkan dengan lengkap, termasuk tanaman sabang yang ditanam di empat sudut ladang. Petani juga menanam memponoh sebagai tanaman obat-obatan serta menyiapkan wadah tempajang tuyong untuk menyimpan benih. Sebelum benih dimasukkan ke tanah, doa-doa dipanjatkan kembali kepada Tuhan Allah dan nenek moyang agar tanaman tersebut diberkati.
Salah satu tradisi unik dalam menjaga benih adalah mengurung ayam dara peladang menggunakan kulit kayu. Hal ini dilakukan sebagai simbol agar burung dara peladang yang suka merusak tidak memakan benih padi yang baru ditanam. Melalui ritual kelongkang tua ini, petani berharap agar padi dapat tumbuh dengan subur, baik, dan terhindar dari segala macam penyakit tanaman.
Terakhir, dilakukan ritual nyolet batu menggunakan darah ayam yang telah disembelih di tengah ladang. Perilaku ayam saat disembelih dipercaya menjadi pertanda bagi kondisi ladang nantinya; jika ayam mati dengan tenang, rumput di ladang dianggap akan jarang. Dengan lengkapnya seluruh alat penuhek dan ritual yang dilakukan sesuai kebiasaan, maka selesailah seluruh rangkaian tata cara berladang tersebut.