Entogong Doni Dikumpulkan oleh Tino

Cet Inai Versi 2

Cet Inai Versi 2

Cet Inai Versi 2

2:25 menit

Ini adalah kisah tentang Cet Inai, sebuah cerita yang telah lama diwariskan dari generasi ke generasi. Di sebuah kampung yang jauh dari kemewahan, hiduplah Cet Inai bersama enam saudara kandungnya. Mereka adalah tujuh bersaudara yang menghadapi kehidupan yang sangat sulit, seringkali harus berjuang melawan kemiskinan dan kelaparan yang tak kunjung usai.

Dalam keluarga yang serba kekurangan itu, beban hidup terasa semakin berat dengan kehadiran seorang anak kecil yang masih sangat muda. Anak ini adalah buah hati dari salah satu saudara tertua, yang juga menjadi tumpuan harapan dan kepedihan mereka. Setiap hari adalah perjuangan untuk mencari sesuap nasi, agar perut-perut yang kosong bisa terisi, setidaknya untuk sementara waktu.

Sebagai bagian dari upaya mereka untuk bertahan hidup, ketujuh bersaudara itu, termasuk adik bungsu mereka yang masih belia, seringkali harus pergi berladang. Mereka bekerja keras di tanah, berharap bisa memanen sedikit hasil bumi untuk mengurangi penderitaan. Namun, seringkali usaha mereka tidak sebanding dengan kebutuhan perut yang terus menerus menuntut.

Suatu hari, seperti banyak hari lainnya, anak kecil itu merasakan lapar yang teramat sangat. Perutnya melilit dan ia mulai menangis, merengek-rengek meminta nasi kepada Cet Inai, yang ia anggap sebagai figur ibu. Tangisan sang anak memecah kesunyian rumah mereka yang sederhana, menambah beban di hati Cet Inai.

"Cet Inai, saya mau nasi!" pinta sang anak dengan suara serak, air mata membasahi pipinya yang kurus. Cet Inai, yang sedang sibuk mengurus pekerjaan rumah, berusaha menenangkan anaknya. "Nanti dulu, anakku," jawabnya lembut, "Aku masih memasak, sebentar lagi makananmu siap."

Namun, rasa lapar tidak mengenal kata sabar. Anak itu terus merengek, "Cet Inai, saya mau nasi!" Cet Inai kembali berusaha menjelaskan, "Nanti dulu, anakku, aku masih menyiapkan hidangan untukmu." Ia mencoba menenangkan sang anak, berharap bisa segera menyajikan makanan yang mungkin tidak seberapa banyaknya.

Tak lama kemudian, Cet Inai pulang dari ladang dengan membawa sesuatu di tangannya. Itu adalah seekor belalang induk, tangkapan yang mungkin terlihat kecil, namun bagi mereka, itu adalah rezeki yang patut disyukuri. Belalang induk itu segera dibakar, aroma asapnya sedikit memberi harapan akan adanya makanan.

Setelah belalang itu matang dan siap disantap, sang anak, yang sudah sangat kelaparan, segera mendekat. Matanya tertuju pada paha belalang induk yang terlihat paling besar dan empuk. Ia meminta paha belalang itu kepada Cet Inai, berharap bisa segera meredakan laparnya.

Namun, entah mengapa, Cet Inai menolak memberikan paha belalang induk itu kepada anaknya. Mungkin karena ia sendiri juga sangat lapar, atau mungkin karena alasan lain yang tidak terucap. Penolakan itu membuat sang anak kecewa dan sedih, namun ia akhirnya hanya memakan bagian belalang yang lain sendirian, tanpa paha yang diinginkannya.

Setelah melihat anaknya makan, hati Cet Inai terasa berat. Mungkin rasa bersalah, penyesalan, atau bahkan keputusasaan yang mendalam menyelimutinya. Dalam kemarahan atau kesedihan yang tak tertahankan, ia pun beranjak pergi meninggalkan rumah. Ia berjalan menuju sebuah tempat yang dikenal dengan nama Angop Batu.

Setibanya di sana, sebuah kejadian luar biasa dan mengerikan pun terjadi. Angop Batu, sebuah batu besar yang diyakini memiliki kekuatan mistis, tiba-tiba membuka dan menelannya hidup-hidup. Cet Inai menghilang ditelan batu, sebuah hukuman atas pelanggaran "pamali" yang ia lakukan.

Konon, ada sebuah pantangan atau "pamali" yang sangat dihormati di sana: menolak permintaan anak akan paha belalang induk. Kejadian tragis yang menimpa Cet Inai menjadi bukti nyata dari "pamali paha belalang induk" yang harus dihindari. Kisah Angop Batu dan pantangan itu pun menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang.

Melihat apa yang terjadi, para saudara Cet Inai yang lain segera menyadari kesalahan yang telah terjadi. Mereka bergegas ke Angop Batu dan, dengan hati penuh kesedihan dan harapan, mereka mulai merapal mantra. "Angop-angop batu, pamali belalang induk!" seru mereka berulang kali, memohon agar Cet Inai bisa kembali.

Setiap kali mantra itu diucapkan, Angop Batu akan sedikit terbuka, memperlihatkan sedikit sosok Cet Inai di dalamnya, masih hidup namun terperangkap. Proses ini sangatlah panjang dan melelahkan, membutuhkan pengulangan mantra yang tak terhitung jumlahnya. Mereka harus terus mengulanginya, berharap suatu saat nanti Cet Inai bisa sepenuhnya keluar dari batu itu dan kembali berkumpul bersama mereka.