Tupai dan Tengadak
Tupai dan Tengadak
Dahulu kala, hiduplah dua makhluk yang diangkat menjadi saudara, yakni Tengadak dan Tupai. Ikatan persaudaraan mereka sangatlah erat, melebihi ikatan darah sekalipun. Mereka berjanji untuk selalu saling membantu dalam suka maupun duka.
Suatu hari, Tupai jatuh sakit. Tubuhnya demam tinggi, membuatnya lemas dan tidak berdaya. Kondisinya melemah, tidak seperti biasanya yang lincah memanjat pohon dan mematuk kayu.
Biasanya, Tupai akan mematuk kayu-kayu lapuk yang ada di atas air, dan Tengadak akan datang untuk memakan serangga-serangga yang muncul dari kayu tersebut. Namun, sudah beberapa lama Tengadak tidak melihat saudaranya. Ia pun mulai merasa gelisah dan mencari Tupai ke hilir dan hulu sungai.
Setelah puas mencari, Tengadak akhirnya menemukan Tupai yang sedang terbaring lemah. "Ke mana saja kamu selama ini, Tupai?" tanya Tengadak dengan cemas. Tupai menjawab lirih, "Aku demam."
Tengadak bertanya lagi, "Mengapa bisa demam? Apa yang kamu inginkan agar bisa sembuh?" Tupai menatap Tengadak dan berkata, "Aku ingin telur ayam." Permintaan Tupai ini membuat Tengadak terkejut.
Tengadak merasa sangat gelisah. "Bagaimana mungkin aku, yang hidup di air, bisa mendapatkan telur ayam?" pikirnya. Namun, ia tidak menyerah. Demi saudaranya, ia harus menemukan cara.
Ia pun mulai mencari, hilir mudik di sepanjang sungai. Tak lama kemudian, ia melihat seorang perempuan sedang mencuci beras di tepi sungai. Ini mungkin adalah kesempatan yang ia tunggu.
Tanpa pikir panjang, Tengadak melompat ke dalam wadah beras perempuan itu. Perempuan tersebut terkejut, namun dengan cepat ia membawa Tengadak pulang ke rumahnya. Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan cucian berasnya.
Sesampainya di rumah, yang dulunya berbentuk rumah betang, Tengadak segera bergerak lincah. Ia tergesa-gesa menuju sudut rumah, tempat tempinai ayam berada di atas empahan. Dengan cekatan, Tengadak melompat-lompat hingga berhasil meraih sebutir telur ayam tanpa merusaknya.
Tengadak mengulum telur itu di mulutnya, lalu segera melompat-lompat kembali menuju sungai. Ia memanggil Tupai, "Mana kamu?" Tupai menjawab bahwa ia masih di sana, belum sembuh karena masih menanti telur ayam. Tengadak pun menyerahkan telur ayam itu.
Tupai sangat terharu melihat pengorbanan Tengadak. Ia tidak menyangka saudaranya bisa mendapatkan telur ayam baginya, padahal Tengadak adalah makhluk air. Berkat Tengadak, Tupai pun berangsur pulih dan kembali sehat.
Selang beberapa waktu kemudian, giliran Tengadak yang jatuh sakit demam. Tupai yang biasanya mematuk batang-batang kayu rapuh, merasa ada yang kurang. Ia tidak melihat Tengadak yang biasanya menangkap serangga hasil patukannya.
Tupai pun mulai gelisah dan mencari saudaranya. Ia mencari ke hilir dan hulu, milir mudik, hingga akhirnya menemukan Tengadak. "Ke mana kamu, Tengadak? Aku demam ini!" kata Tengadak, seolah membalas perkataan Tupai sebelumnya.
Tupai bertanya dengan cemas, "Apa yang kamu inginkan agar bisa sembuh?" Tengadak menjawab, "Aku mau hati ikan laut." Permintaan ini jauh lebih sulit dari sebelumnya.
Tengadak menjelaskan bahwa ia menginginkan hati ikan laut yang sangat besar, sebesar kapal, seperti yang sering terlihat di televisi. Tupai, yang adalah hewan pedalaman, merasa bingung bagaimana ia bisa mendapatkan hati ikan laut sebesar itu.
Namun, Tupai tidak menyerah. Ia bertekad untuk memenuhi keinginan saudaranya, sama seperti Tengadak dahulu. Ia pun memutar otak mencari cara yang cerdik.
Tupai pun menemukan sebuah kelapa. Ia membolongi kelapa itu, lalu masuk dan tinggal di dalamnya. Kelapa yang sudah berlubang itu kemudian jatuh ke air, mengapung mengikuti arus sungai.
Setelah dua atau tiga hari mengapung, buah kelapa itu akhirnya ditangkap oleh seekor ikan laut besar. Merasa sudah berada di dalam perut ikan, Tupai pun keluar dari kelapa. Dengan sigap, ia berhasil mengambil hati ikan laut itu.
Setelah mendapatkan hati ikan laut, Tupai segera kembali pulang. Ia mencari Tengadak yang masih demam. "Ini hati ikan laut!" seru Tupai sambil menyerahkannya kepada saudaranya.
Sejak saat itu, mereka berdua menyadari bahwa semua yang terjadi bukan hanya tentang memenuhi keinginan. Mereka telah menguji kemampuan satu sama lain, membuktikan betapa besar pengorbanan yang bisa mereka lakukan demi persaudaraan.
Hingga kini, ikatan persaudaraan antara Tengadak dan Tupai tetap abadi. Jika ada tupai yang mematuk batang kayu rapuh di atas air, pasti ada tengadak yang datang untuk memakan serangga-serangga yang keluar darinya. Itulah sejarah persaudaraan mereka yang tak lekang oleh waktu.
