Entogong Jali Dikumpulkan oleh Tino

Kelopar Aga Ujan

Kelopar Aga Ujan

Kelopar Aga Ujan

2:48 menit

Aku akan menceritakan sebuah kisah pilu yang dialami oleh kami, masyarakat Kayan Hulu, mengenai bencana kelaparan besar yang terjadi pada tahun 1966. Segala kesusahan ini bermula ketika kami berupaya mengerjakan ladang seperti biasanya, namun alam seolah tidak berpihak pada usaha kami. Kami sama sekali tidak bisa membakar lahan karena hujan turun tanpa henti membasahi bumi.

Kondisi cuaca yang ekstrem ini membuat kami tidak mungkin menanam padi di lahan yang masih basah dan penuh ranting kayu. Hujan tersebut terus mengguyur perkampungan kami dalam waktu yang sangat lama, bahkan hingga setengah tahun lamanya. Sejak awal musim menebas pada bulan empat hingga memasuki bulan sembilan, langit tetap saja menurunkan airnya.

Karena mustahil menanam padi, kami akhirnya mencoba untuk menanam ubi sebagai alternatif sumber pangan. Namun, proses penanaman pun dilakukan dengan cara dipaksa di tengah tumpukan ranting kayu yang belum sempat dibakar. Upaya ini pun tidak membuahkan hasil karena ubi-ubi yang baru tumbuh langsung diserbu oleh binatang hutan.

Hama berupa babi hutan dan kera menjadi musuh utama yang menghabiskan tanaman ubi kami di ladang. Apa pun yang kami tanam di sela-sela kayu tersebut ludes dimakan oleh hewan-hewan liar yang juga kesulitan mencari makan. Keadaan ini membuat kami berada dalam posisi yang sangat sulit karena harapan untuk memanen sesuatu sirna begitu saja.

Memasuki tahun 1967, keadaan menjadi semakin genting karena persediaan padi kami sudah benar-benar habis total. Tanaman ubi yang kami harapkan pun tidak ada yang tersisa untuk dipanen akibat serangan hama sebelumnya. Kelaparan hebat pun mulai melanda seluruh masyarakat kami pada tahun 1967 tersebut.

Rasa lapar yang amat sangat memaksa kami untuk mencari ubi liar hingga jauh ke dalam tanah rimba. Kami menyisir hutan demi menemukan ubi pokok demi menyambung hidup keluarga. Di wilayah Nanga Tebidah, hampir seluruh cadangan ubi dan padi milik warga dilaporkan telah habis tak bersisa.

Hama babi rimba pada saat itu sangatlah banyak hingga mereka berani datang mendekat ke area pemukiman warga. Bahkan, tanaman ubi yang letaknya sangat dekat dengan rumah pun habis dibabat oleh kawanan babi tersebut. Kami benar-benar tidak diberikan celah oleh alam dan binatang hutan untuk memiliki simpanan makanan sedikit pun.

Penderitaan kami pada tahun 1967 mencapai puncaknya ketika padi habis dan ubi pun sama sekali tidak ada. Gambaran kondisi fisik warga saat itu sangat memprihatinkan, di mana mereka yang tadinya tegak berjalan mulai merayap karena lemas. Bahkan, mereka yang tadinya hanya bisa merayap akhirnya jatuh tengkurap karena tidak memiliki tenaga sama sekali akibat kelaparan.

Sangat sedikit keluarga yang memiliki simpanan padi untuk bertahan hidup di masa sulit tersebut. Dari seratus kepala keluarga yang ada, mungkin hanya sekitar lima kepala keluarga saja yang masih memiliki simpanan padi yang cukup. Selebihnya, warga harus berjuang mencari ubi ke mana-mana, bahkan hingga menempuh perjalanan jauh ke Kecamatan Nanga Mau.

Setelah masa hujan yang panjang berlalu, bencana berikutnya datang dalam bentuk musim kemarau yang sangat lama. Kemarau pada tahun 1967 ini terasa sangat menyiksa karena tanah menjadi kering kerontang setelah sebelumnya terendam air. Dalam kondisi kemarau panjang ini, masyarakat tetap berusaha mencari sisa-sisa ubi di mana pun berada.

Kegiatan menanam padi pada saat kemarau tersebut hanya bisa dilakukan sedikit demi sedikit dan tidak memberikan hasil maksimal. Inilah yang kami sebut sebagai masa kemarau yang membawa kesengsaraan besar bagi kami di zaman dulu. Perubahan musim yang ekstrem ini seolah datang silih berganti untuk menguji ketahanan hidup kami sebagai orang Kayan Hulu.

Bencana kemarau ini bahkan sempat terulang kembali pada tahun-tahun berikutnya dengan durasi yang mencapai delapan bulan. Kami kembali tersiksa dan terpaksa harus memakan ubi lagi untuk bertahan hidup dari ancaman kelaparan. Meskipun pergaulan sudah bebas dan kami bisa mencari bantuan ke mana-mana, kenangan pahit saat padi dan ubi habis total itu tidak akan pernah terlupakan.