Nanga Abai Apen Dikumpulkan oleh Lili

Mamong Lehiong

Mamong Lehiong

Mamang Lehiong

32:37 menit

Alkisah, tersebutlah seorang pemimpin besar bernama Mamong Lehiong yang memiliki mertua bernama Kintomeni. Suatu ketika, ayah Lemio Kintomeni tersebut jatuh sakit parah dan telah diobati ke berbagai penjuru namun tak kunjung sembuh. Mendengar kabar itu, seorang tabib bernama Mamong Ketao datang dari hilir, dari persimpangan Tanah Jawa, membawa berbagai macam obat-obatan untuk menyembuhkan sang ayah.

Sebelum pengobatan dimulai, sebuah perjanjian besar diucapkan: siapa pun yang berhasil menyembuhkan sang ayah akan dianggap keluarga. Jika penyembuhnya perempuan seumuran Lemio Kintomeni, ia akan dijadikan saudara; jika lebih tua, dijadikan ibu; dan jika masih kecil, diangkat menjadi anak. Namun, jika penyembuhnya laki-laki yang masih bujang, maka ia berhak menjadi suami Lemio Kintomeni, dan jika sudah tua, ia akan dihormati sebagai ayah.

Mamong Ketao mencoba mengobati sang ayah, namun ternyata masih kekurangan satu jenis obat rahasia. Ia pun terpaksa kembali ke hilir untuk mengambil kekurangan obat tersebut. Di saat yang sama, Lemio Kintomeni merasa sangat sedih dan lelah melihat ayahnya terus menderita, sementara Mamong Ketao tak kunjung kembali. Dalam keputusasaannya, ia meminta tolong kepada Mamong Lehiong dan berjanji akan menjadikannya suami jika ia sanggup menyembuhkan ayahnya.

Meski awalnya ragu karena Lemio Kintomeni sudah bertunangan dengan Mamong Ketao, Mamong Lehiong akhirnya bersedia mengobati sang mertua hingga sembuh total. Setelah sang ayah sehat kembali dan nafsu makannya pulih, Mamong Lehiong dan Lemio Kintomeni pun dinikahkan. Kabar pernikahan ini pun terdengar oleh Mamong Ketao di hilir, yang merasa sangat kesal dan dikhianati karena ia merasa janji mereka telah dilanggar secara sepihak.

Sejinok Ali, ayah Mamong Ketao, menenangkan anaknya dan berkata bahwa pernikahan itu tidak akan bertahan lama karena didasari ketidakjujuran. Ia kemudian menciptakan sebuah kutukan berupa babi hutan yang memakai kalung rantai besi dan tembaga, hasil ciptaan Aji di Pulau Jawa. Babi itu bukan sembarang binatang, melainkan "Babi Berantai Besi" yang berfungsi sebagai pemisah hubungan suami dan istri yang telah berjanji namun berkhianat.

Suatu hari, saat Lemio Kintomeni tengah hamil dan mengidam makanan yang aneh-aneh, Mamong Lehiong pergi memasak bubu di Selingkat untuk mencari ikan. Esok paginya, saat hendak memeriksa bubu, anjing-anjingnya menggonggong sangat gaduh karena melihat seekor babi hutan raksasa berkalung rantai tembaga di depan rumah Selingkat Liang Tarok. Mamong Lehiong menyadari bahwa itu bukan babi biasa dan memilih untuk tidak membunuhnya, lalu pulang hanya membawa ikan.

Sesampainya di rumah, Lemio Kintomeni memarahi suaminya dan menuduhnya sebagai penakut karena tidak berani mengejar babi tersebut. Karena terus ditekan dan dihina dengan cara disuruh memakai sarung perempuan, Mamong Lehiong akhirnya menjelaskan bahwa babi itu adalah kiriman Mamong Ketao untuk memisahkan mereka. Namun, pertengkaran itu memuncak hingga Mamong Lehiong memutuskan untuk bercerai dan pergi mengejar babi tersebut sebagai pembuktian terakhirnya.

Aksi pengejaran babi berantai itu berlangsung sangat jauh, melewati berbagai sungai dan gunung di tanah Kalimantan. Dalam pengejaran itu, anjing kesayangan Mamong Lehiong yang bernama Remok mati terhempas dan berubah menjadi batu, yang kini dikenal sebagai Batu Remok di Sungai Lemioh. Mamong Lehiong terus memburu hingga ke Nanga Tebidah, di mana tombaknya patah dan tertancap di tanah, yang kemudian tumbuh menjadi pohon Tebelian (Kayu Ulin) di Nanga Tebilan Tancap.

Perjalanan itu membawanya hingga ke Sintang, ke sebuah tempat yang kini disebut Sungai Pembunuh, lalu berputar kembali ke arah Kayan. Di sebuah tempat bernama Natai Besi, ia berhasil melempar tombaknya dan memutus rantai besi pada leher babi tersebut. Akhirnya, di hulu Sungai Samok, Mamong Lehiong berhasil membunuh babi itu setelah sebelumnya mendapat bantuan makanan dan nasihat dari Ropo dan Buro, penjaga perbatasan Tebidah.

Setelah babi itu disembelih, dagingnya dibagi-bagikan kepada berbagai suku: orang Melayu mendapat daging, orang Cina mendapat lemak dan hati, sedangkan orang Dayak mendapat tulang dan perut. Mamong Lehiong kemudian mengikatkan sebagian hati dan paha babi itu pada anjingnya untuk dibawa pulang kepada Lemio Kintomeni sebagai bukti. Namun, setelah tugas itu selesai, Mamong Lehiong tetap memilih berpisah dan tinggal bersama Ropo dan Buro di hulu Samok.

Di sisi lain, Lemio Kintomeni melahirkan seorang anak laki-laki bernama Mamong Semanuk yang tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan kuat. Setelah dewasa, Mamong Semanuk mencari ayahnya ke hulu Samok dan harus melewati berbagai ujian kekuatan melawan Mamong Lehiong, seperti adu lempar tombak dan adu lompat tinggi. Setelah terbukti sebagai anak kandung, Mamong Semanuk diberi petuah tentang strategi berperang, bahwa orang Tebidah akan menang jika berperang di siang hari.

Keturunan mereka terus berlanjut hingga ke masa Bujong Tungal yang menikahi seorang kuntilanak, lalu melahirkan tujuh bersaudara yang disebut Agok Lompor. Para Agok Lompor ini dikenal sebagai petani hebat yang sanggup mengalahkan ular piton raksasa yang sering memakan padi mereka. Kisah ini berakhir pada masa Bantan Gumi, seorang kaya raya yang sakti, yang akhirnya gugur setelah berperang melawan rombongan Petaram dan Bejajuk dari hilir, menandai berakhirnya era para pahlawan perkasa di tanah tersebut.