Entogong Pasang Dikumpulkan oleh Adel

Menoek Menantu

Menoek Menantu

Menoek Menantu

7:37 menit

Kisah ini menceritakan tentang tradisi menoek atau menoki, sebuah prosesi adat penting yang dilakukan oleh mereka yang sudah berkeluarga atau berumah tangga. Berdasarkan adat istiadat yang berlaku, ketika seseorang sudah memiliki istri dan anak, maka ia wajib melaksanakan upacara menoek ini. Hal ini dianggap sebagai kelengkapan hidup dalam berumah tangga agar segala sesuatunya berjalan dengan selaras dan sesuai tuntunan leluhur.

Persiapan awal untuk melaksanakan menoek membutuhkan ketelitian dan kelengkapan alat yang luar biasa banyak. Peladang atau keluarga tersebut harus menyiapkan berbagai perintilan, mulai dari kayu untuk membuat tangga bilid naik hingga cadangan beras dalam jumlah yang cukup besar. Persiapan ini sangat krusial karena setiap benda yang disiapkan memiliki makna simbolis dalam hitungan adat bilid naik tersebut.

Selain kayu dan beras, perlengkapan lain seperti sumpit dan kain batik juga harus tersedia sebelum acara dimulai. Kain batik disiapkan secara khusus untuk prosesi tarik naik, sementara tangga kayu digunakan sebagai sarana fisik dan simbolis untuk naik ke rumah. Jika seluruh peralatan dan bahan makanan sudah terkumpul lengkap di dalam rumah, barulah keluarga tersebut siap untuk melaksanakan gawai atau pesta adat.

Dalam pelaksanaan gawai ini, terdapat kesepakatan-kesepakatan tertentu antaranggota keluarga atau warga yang tinggal berdekatan. Jika tempat tinggal mereka dekat, terkadang mereka sepakat untuk tidak membuat pagar ompong, namun pada intinya upacara menoek tetap harus mengikuti aturan adat mali. Segala sesuatunya harus dilaksanakan sesuai dengan tata cara adat istiadat yang sudah turun-temurun agar tidak melanggar ketentuan yang ada.

Pelaksanaan gawai ini juga melibatkan perhitungan ongkos yang cukup besar, baik untuk biaya pesta maupun untuk pengadaan alat-alat perintilan menoek. Sebelum acara puncak, pihak keluarga akan saling memberi tahu dan memberikan ketebung kepada kerabat yang tinggal jauh. Pemberian informasi ini penting agar seluruh sanak saudara mengetahui bahwa akan ada sebuah keluarga yang melaksanakan upacara besar tersebut.

Bagi kerabat yang tinggal di tempat jauh, seperti di jungkau atau rumah betang yang panjang, sistem undangannya bisa berupa ikatan barang. Sebagai contoh, jika dalam satu rumah betang terdapat empat puluh kepala keluarga, maka tidak semua harus dikirimkan satu per satu secara penuh. Biasanya cukup dikirimkan sekitar tujuh ikat saja sebagai perwakilan untuk seluruh penghuni betang tersebut agar mereka hadir.

Prosesi gawai ini berlangsung selama beberapa hari dengan tahapan yang sudah ditentukan secara urut. Hari pertama dan kedua dianggap sebagai pembukaan awal di mana warga mulai berkumpul namun belum melakukan pekerjaan yang berat. Kemudian, kegiatan berlanjut hingga hari ketiga, keempat, dan seterusnya hingga mencapai hari keenam yang disebut sebagai masa pra-kegiatan sebelum hari puncak.

Pada hari ketujuh, para pemimpin adat seperti kepala penghulu, agung temenggung, dan para pemuka dusun mulai berkumpul untuk bermufakat. Mereka mengajak seluruh keluarga untuk berdiskusi karena kehadiran pihak besan dan kerabat sangat diperlukan dalam menyukseskan acara menoek anak cucu tersebut. Mufakat ini bertujuan untuk menyatukan langkah agar prosesi penyambutan tamu dan pelaksanaan adat berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

Di sisi lain, warga kampung sudah mulai sibuk menyiapkan pagar ompong yang dihiasi dengan berbagai tanaman simbolis. Segala sesuatu seperti daun kelapa, tebu, dan tanaman pongompong disiapkan dengan lengkap di area pintu masuk. Persiapan penyambutan ini dilakukan dengan sangat meriah dan penuh kehati-hatian sesuai dengan jam kedatangan tamu yang telah ditentukan sebelumnya oleh pemangku adat.

Ketika rombongan tamu tiba, suasana menjadi ramai dengan suara gong yang dipukul bertalu-talu untuk menyambut mereka. Terjadilah prosesi ngadu, di mana pihak laki-laki dan pihak perempuan saling berbalas ucapan yang disebut beduda berayah. Dalam dialog tersebut, pihak tamu bertanya tentang makna pagar ompong yang menghalangi jalan mereka dan mengapa mereka dilarang masuk ke dalam area upacara.

Prosesi pemotongan pagar ompong ini tidak boleh dilakukan sembarangan karena ada aturan mali atau larangan yang harus dipatuhi hingga hitungan ketujuh. Setelah mencapai hitungan yang tepat dan izin diberikan, barulah pagar ompong boleh dipotong dan seekor ayam disembelih sebagai syarat sah. Setelah itu, para pengatur adat dan agung temenggung melakukan aksi silat sambil menggigit besi baja sebagai simbol kekuatan semangat.

Ritual menggigit besi ini melambangkan harapan agar jiwa dan raga mereka sekeras besi, memiliki nafas yang panjang seperti air, dan tawar terhadap segala gangguan tanah. Pelarihan ini dilakukan agar seluruh keluarga, mulai dari anak, cucu, hingga menantu, terhindar dari segala macam penyakit sampar dan marabahaya. Setelah menginjak telur sebagai simbol kesucian, barulah seluruh tamu dan keluarga diperbolehkan masuk untuk makan bersama.

Suasana pesta semakin meriah ketika berbagai makanan seperti paha babi, kue-kue, serta pinang dan sirih yang tergantung mulai dibagikan kepada hadirin. Minuman tuak yang telah disiapkan sebelumnya juga mulai dikeluarkan ketika acara inti sudah memasuki babak bebas. Pihak menantu atau kerabat yang sebaya biasanya akan dipanggil namanya untuk membuka tuak pamali yang menjadi bagian penting dalam perjamuan tersebut.

Puncak keramaian ditandai dengan warga yang bergendang sambil berkeliling mengelilingi pagar ompong dan tuak pamali. Mereka berputar sebanyak tujuh kali searah matahari mati sambil bersorak-sorai dan saling menyuap satu sama lain. Setelah itu, mereka kembali berkeliling sebanyak tujuh kali searah matahari hidup atau disebut nganjan untuk memohon keselamatan agar terhindar dari wabah penyakit.

Setelah seluruh putaran selesai, pengatur adat dan penghulu memberikan mantra tawar kepada semua orang yang hadir di tempat itu. Sebagai pelengkap ritual, ada petugas khusus yang menyiapkan kapuk di dalam seludang kelapa untuk dicoletkan ke pipi setiap orang. Terakhir, terdapat tuak khusus yang belum disentuh untuk menutup seluruh rangkaian adat menoek tersebut sehingga prosesi pun dianggap selesai dan sempurna.