Entogong Doni Dikumpulkan oleh Tino

Muncak Macong

Muncak Macong

Muncak Macong

5:36 menit

Dahulu kala, hiduplah seorang pria bernama Mamang Mencak Mancong. Ia seorang diri, tanpa seorang istri yang mendampingi hidupnya.

1

Di sebuah tempat lain, tinggal pula tujuh bersaudara perempuan yang dikenal dengan sebutan Mia dan saudari-saudarinya. Mereka semua juga belum memiliki suami, menjalani hari-hari dalam kesendirian. Melihat keadaannya yang sebatang kara, Mamang Mencak Mancong pun bertekad. Ia berkata dalam hati, "Aku harus mencari seorang istri untuk menemani masa tuaku."

2

Dengan niat yang bulat, Mamang Mencak Mancong segera memulai perjalanannya mencari calon istri. Ia memutuskan untuk mendatangi para gadis, dimulai dari yang paling tua di antara tujuh bersaudara tersebut. Dalam perjalanannya, ia memiliki alasan yang disampaikan kepada setiap gadis yang ditemuinya.

Saat tiba di hadapan saudari tertua, gadis itu bertanya, "Ke mana gerangan kau pergi, Mamang Mencak Mancong?" Mencak Mancong menjawab, "Aku hendak menebang kayu ara untuk dijadikan jembatan, dan jika aku menemukan gadis cantik, ia akan kujadikan istri." Gadis tertua itu kemudian menanggapi, "Mengapa aku yang cantik ini tidak kau jadikan istri?"

3

Pertanyaan itu segera diikuti dengan Mamang Mencak Mancong yang menanyakan seberapa banyak ia makan. Gadis tertua itu menjawab tanpa ragu, "Aku makan sewajan besar di pagi hari, sewajan besar di siang hari, dan sewajan besar lagi di malam hari." Mendengar jumlah yang begitu banyak, Mamang Mencak Mancong pun berpikir, "Oh, kalau sebanyak itu, aku tidak akan mampu memberimu makan."

4

Tidak patah semangat, Mamang Mencak Mancong melanjutkan perjalanannya ke rumah saudari kedua. Pertanyaan yang sama ia ajukan, dan saudari kedua pun menanyakan hal serupa. "Mengapa aku yang cantik ini tidak kau jadikan istri?" tanyanya penasaran.

Kembali Mamang Mencak Mancong menanyakan tentang porsi makannya. Saudari kedua menjawab, "Aku makan sewajan besar di pagi hari, sewajan besar di siang hari, dan sewajan besar lagi di sore hari." Mencak Mancong menghela napas, "Ah, itu terlalu banyak, aku tidak akan sanggup membiayai makanmu."

Tak lama kemudian, Mamang Mencak Mancong tiba di hadapan saudari ketiga. Sekali lagi, ia menjelaskan niatnya untuk menebang kayu ara dan mencari istri. Saudari ketiga pun bertanya, "Mengapa aku yang cantik ini tidak kau jadikan istri?"

Saat ditanya porsi makannya, saudari ketiga berkata, "Aku makan satu periuk di pagi hari, satu periuk di siang hari, dan satu periuk di malam hari." Mencak Mancong menggelengkan kepala, "Jumlah itu masih terlalu banyak, aku tidak mampu mengongkosinya."

Mamang Mencak Mancong kemudian melanjutkan langkahnya ke saudari keempat. Pertanyaan dan jawaban yang sama kembali terulang dalam percakapan mereka. Ia kembali menjelaskan tujuannya mencari istri di antara gadis-gadis cantik.

Saudari keempat mengungkapkan porsi makannya, "Aku makan satu periuk ukuran sedang di pagi hari, satu periuk ukuran sedang di siang hari, dan satu periuk ukuran sedang di malam hari." Mencak Mancong menolaknya dengan halus, "Jumlah sebanyak itu masih tidak mampu aku penuhi, aku tidak mau."

Tidak menyerah, Mamang Mencak Mancong akhirnya sampai di rumah saudari kelima. Seperti sebelumnya, ia mengutarakan maksudnya untuk menebang kayu ara dan mencari pendamping hidup. Saudari kelima pun bertanya, "Mengapa aku yang cantik ini tidak kau jadikan istri?"

Ketika ditanya seberapa banyak ia makan, saudari kelima menjawab, "Aku tidak terlalu banyak makan, hanya lima canting di pagi hari, lima canting di siang hari, dan lima canting di malam hari." Mencak Mancong tetap berpendapat, "Jumlah itu masih terlalu banyak bagiku, siapa yang sanggup memberimu makan?"

Perjalanan Mamang Mencak Mancong terus berlanjut hingga ia tiba di hadapan saudari keenam. Ia kembali menyampaikan niatnya untuk menebang kayu ara dan mencari seorang gadis cantik untuk dijadikan istri. Saudari keenam pun mengajukan pertanyaan yang sama, "Mengapa aku yang cantik ini tidak kau jadikan istri?"

Saudari keenam menjelaskan porsi makannya, "Aku hanya makan tiga canting di pagi hari, tiga canting di siang hari, dan tiga canting di malam hari." Meskipun sudah berkurang, Mamang Mencak Mancong masih merasa keberatan dan melanjutkan pencariannya.

Akhirnya, Mamang Mencak Mancong tiba di hadapan saudari ketujuh, yang paling bungsu. Ia kembali mengutarakan niatnya, "Aku hendak menebang kayu ara untuk jembatan, dan jika ada gadis cantik, akan kujadikan istri." Saudari ketujuh, dengan suara yang terdengar lemah, juga bertanya, "Mengapa aku yang cantik ini tidak kau jadikan istri?"

5

Ketika ditanya tentang porsi makannya, saudari ketujuh menjawab, "Aku hanya makan seujung kenyalau di pagi hari, seujung kenyalau di siang hari, dan seujung kenyalau di malam hari." Mendengar jumlah yang begitu sedikit, Mamang Mencak Mancong langsung setuju. "Kalau begitu, aku mau," katanya lega, "kalau makannya hanya sedikit seperti itu."

6

Maka, Mamang Mencak Mancong pun mendatangi saudari ketujuh selama tiga hari, mungkin untuk meminang atau menjalin hubungan lebih dekat. Setelah mereka hidup bersama, waktu berlalu dan sang istri pun semakin tua dan lemah. Ia sudah tidak punya kemampuan seperti sedia kala.

7

Suatu hari, sang istri yang sudah sangat renta itu merasa ingin buang air besar, namun ia sudah tidak mampu melakukannya sendiri. Ia memanggil suaminya, "Ooh, Mencak Mancong, gendong aku!" Mencak Mancong bertanya, "Hendak digendong ke mana?" Istrinya menjawab, "Aku mau buang air besar." Mencak Mancong sempat bingung, mengira istrinya ingin makan nasi, "Mau nasi?" Istrinya kembali menegaskan, "Mau eek!" Baru Mencak Mancong mengerti, "Oh, mau buang air besar rupanya." "Baiklah," kata Mencak Mancong.

8

Maka, digendonglah sang istri oleh Mencak Mancong menuju ke sungai atau tempat air lainnya. Pada masa itu, belum ada fasilitas jamban seperti sekarang, sehingga mereka terbiasa buang air di tempat terbuka dekat air. Mencak Mancong membawa serta sebuah penyilok, pisau kecil yang terbuat dari batang bambu tua.

9

Ketika sang istri sedang buang air besar, terlihatlah bagian belakangnya yang terulur keluar. Melihat itu, timbul niat jahat di hati Mencak Mancong. Tanpa berpikir panjang, ia menyayat bagian tersebut dengan penyiloknya. Seketika itu juga, sang istri pun meninggal dunia di tempat.

90

Setelah istrinya meninggal, Mencak Mancong menguburkannya begitu saja secara sembarangan. Ketika kabar kematian itu sampai kepada saudara-saudara perempuan mendiang, mereka ingin menuntut keadilan. Namun, karena jasadnya sudah dikubur sembarangan oleh Mencak Mancong, mereka tidak bisa lagi melakukan tuntutan apapun.

91

Demikianlah kisah Mamang Mencak Mancong, sebuah dongeng yang berakhir tragis.

92