Entogong Lijah Dikumpulkan oleh Nina

Sungai Barito

Sungai Barito

Sungai Barito

3:20 menit

Di sebuah pondok yang sederhana, jauh dari keramaian, hiduplah seorang ayah bernama Bari bersama putra semata wayangnya, Ito. Mereka berdua menjalani hari-hari dalam kesendirian, mengandalkan kekuatan dan kebersamaan untuk menghadapi segala tantangan hidup. Pondok kecil mereka menjadi saksi bisu dari ikatan keluarga yang erat, meskipun hanya berdua.

Bari adalah seorang pekerja keras yang setiap hari menghabiskan waktunya di kebun. Sejak matahari terbit hingga terbenam, ia tak pernah lelah mencangkul tanah, menanam, dan merawat segala tanaman demi menghidupi Ito. Pekerjaan berkebun itu adalah satu-satunya sumber penghasilan mereka, yang selalu ia jalani dengan penuh ketekunan.

Setelah seharian penuh berkebun, saat senja mulai menyelimuti, Bari akan pulang ke pondoknya. Namun, ia tidak langsung beristirahat. Setiap sore, ia selalu menyempatkan diri untuk pergi ke sungai dan meletakkan perangkap bubu di aliran air. Harapannya, esok pagi ia bisa mendapatkan tangkapan untuk makanan atau dijual.

Pagi harinya, sebelum matahari terlalu tinggi, Bari sudah kembali ke tepi sungai untuk mengangkat perangkap bubunya. Dengan hati penuh harap, ia menarik bubu dari dalam air, memeriksa isinya dengan teliti. Pada suatu pagi yang biasa, ia menemukan seekor ikan pesut terperangkap di dalamnya, hanya satu ekor saja.

Ikan pesut itu kemudian dibawa pulang oleh Bari, dengan langkah yang tidak terlalu riang. Sesampainya di pondok, ikan tersebut diletakkan di dalam sebuah ember yang ditempatkan di belakang rumah mereka. Bari merenung, memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan dengan tangkapan kecil itu, yang mungkin tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Hatinya diliputi kebimbangan. "Mau dimakan, ikannya terlalu kecil," gumam Bari pada dirinya sendiri, menimbang-nimbang. "Mau dijual, tidak cukup karena sedikit," tambahnya lagi, menyadari bahwa berat ikan itu bahkan tidak sampai satu kilogram. Ia merasa serba salah, tidak tahu harus berbuat apa dengan pesut yang ia tangkap.

Setelah berpikir sejenak, Bari pun mendapatkan sebuah ide. Ia memutuskan untuk membuat sebuah kolam di belakang rumah, tempat ikan pesut itu bisa hidup dan mungkin tumbuh lebih besar. Tanpa menunda waktu, ia segera mengambil cangkul dan mulai bekerja keras menggali tanah untuk membuat kolam.

Tak butuh waktu lama, kolam yang sederhana itu pun selesai dibuat, terletak persis di belakang pondok mereka. Bari merasa puas dengan hasil kerjanya. Ia kemudian bergegas mengambil ember tempat ikan pesut itu disimpan, berniat memindahkannya ke kolam baru. Namun, betapa terkejutnya Bari, ikan pesut itu sudah tidak ada di dalam ember.

Di luar dugaannya, di samping ember yang kosong itu, berdiri seorang wanita yang sangat cantik. Wanita itu memiliki paras yang begitu memikat, kecantikannya sungguh luar biasa. Bari terpana melihatnya, hatinya seketika tertarik pada sosok misterius yang tiba-tiba muncul di hadapannya itu, yang ia yakini berasal dari ikan pesutnya.

Rasa ketertarikan yang begitu kuat itu akhirnya membawa mereka ke jenjang pernikahan. Bari dan wanita cantik yang dulunya adalah ikan pesut itu pun hidup bersama sebagai suami istri. Waktu berlalu, kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan kehadiran seorang anak, yang tumbuh besar dan memiliki kebiasaan unik.

Anak mereka, setelah beranjak besar, memiliki kebiasaan mandi di sungai setiap hari. Ia akan pergi ke sungai dan seringkali tidak kunjung pulang ke rumah hingga larut. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga ia remaja dan dewasa, membuat Bari lama-kelamaan merasa jengkel dan muak.

Suatu hari, kesabaran Bari habis melihat anaknya yang selalu mandi di sungai tanpa mengenal waktu. Dengan nada kesal, ia bertanya, "Kamu ini kenapa selalu mandi di sungai? Pantas saja kamu saat mandi di sungai tidak kunjung pulang ke rumah, karena kamu anak ikan!" Kata-kata itu terlontar begitu saja, tanpa ia sadari akan melukai hati anaknya.

Mendengar perkataan ayahnya, sang anak merasa sangat malu dan terpukul. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia disebut sebagai anak ikan. Dengan perasaan hancur, ia bersama ibunya memutuskan untuk pergi dari rumah itu, meninggalkan pondok yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka.

Mereka berdua pun pergi tanpa menoleh ke belakang, memulai perjalanan yang penuh duka. Sepanjang perjalanan mereka dikejar oleh angin ribut dan disambar petir yang menyambar-nyambar di langit. Bari, sang ayah, dengan perasaan menyesal dan panik, berusaha mengejar mereka, namun ia tidak berhasil mengejar langkah mereka yang semakin jauh.

Hingga sampailah mereka di tepi sungai, di mana tanah di pijakan mereka tiba-tiba longsor. Mereka terus berjalan hingga masuk ke dalam air, semakin jauh dan akhirnya hanyut terbawa arus sungai yang deras. Tanah di tepi sungai terus-menerus longsor, dan semua ranting kayu serta pohon-pohon besar ikut hanyut terkikis oleh air.

Melihat semua kejadian itu, Bari hanya bisa terpaku dalam kesedihan yang mendalam. Dengan suara yang sarat makna, ia pun berucap, "Terjadilah Sungai Barito." Sejak saat itu, sungai tersebut dikenal dengan nama Sungai Barito, menjadi saksi bisu dari kisah tragis keluarga yang terpecah belah oleh takdir dan sebuah rahasia.