Poring Gudung Dikumpulkan oleh Gina

Berburu

Berburu

Berburu

2:28 menit

Dahulu kala, kami memiliki tradisi berburu yang sangat kental dan dilakukan dengan penuh perencanaan serta kebersamaan. Sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam hutan, hal pertama yang kami lakukan adalah berkumpul untuk merembukkan rencana tersebut. Kami harus sepakat terlebih dahulu mengenai siapa saja yang akan ikut serta dan berapa jumlah orang yang akan berangkat menuju rimbanya hutan.

Kegiatan berburu yang kami lakukan pada zaman itu bukanlah sekadar perjalanan singkat yang bisa selesai dalam hitungan jam atau langsung pulang di hari yang sama. Kami sering kali harus bermalam di tengah hutan, setidaknya selama satu atau dua malam, demi mendapatkan hasil buruan yang maksimal. Hal ini dikarenakan kami tidak bisa langsung menemukan binatang, melainkan harus mencari jejak-jejak keberadaan mereka terlebih dahulu.

Setelah semua rencana disepakati dan jumlah anggota kelompok sudah ditentukan, barulah kami mulai mempersiapkan segala perlengkapan untuk berangkat. Karena rencana kami adalah untuk bermalam di dalam hutan, maka perbekalan menjadi hal yang sangat penting untuk dibawa. Kami menyiapkan bahan pangan utama seperti beras, serta bumbu-bumbu dasar seperti garam dan penyedap rasa agar bisa bertahan hidup selama di pondok perburuan.

Perjalanan pun dimulai dengan memasuki hutan pada siang hari untuk melakukan pengintaian awal terhadap area yang akan dijelajahi. Tugas pertama kami saat sudah berada di dalam hutan adalah mengamati tanah dengan saksama untuk menemukan bekas-bekas atau jejak binatang. Kami mencari tanda-tanda keberadaan babi hutan, rusa, kijang, hingga kancil yang mungkin baru saja melintasi jalur tersebut.

Jika jejak-jejak binatang tersebut sudah ditemukan dengan jelas, barulah pada hari berikutnya kami memulai aksi perburuan yang sesungguhnya. Dalam keberangkatan kali ini, kami tidak hanya mengandalkan tenaga manusia, tetapi juga membawa serta anjing-anjing pemburu yang andal. Anjing-anjing inilah yang menjadi mitra utama kami dalam melacak keberadaan babi, kijang, maupun kancil di rimbunnya semak belukar.

Di dalam pembagian tugas, kami memiliki aturan yang sangat teratur agar operasional di hutan berjalan dengan lancar. Ada satu orang yang ditugaskan khusus untuk tinggal di pondok demi menjaga tempat peristirahatan dan menunggu teman-teman yang lain kembali. Sementara itu, anggota kelompok yang lain berpencar ke dalam hutan dengan tugas masing-masing, ada yang fokus melacak telapak kaki binatang dan ada yang mengawal anjing pemburu.

Ketika anjing-anjing kami mulai mencium aroma binatang dan menemukan bekas yang masih segar, mereka akan mulai menggonggong dengan keras. Suara gonggongan itu menjadi sinyal bagi kami para pemburu untuk segera bersiap dengan senjata yang dibawa. Kami semua akan menggenggam erat pisau dan tombak, bersiap untuk menghadapi binatang buruan yang sudah mulai terdesak oleh kejaran anjing.

Jika binatang yang kami incar adalah seekor babi hutan dan jaraknya sudah semakin dekat, gonggongan anjing akan terdengar semakin intens dan bersemangat. Dalam bahasa Dayak kami, gonggongan yang bertubi-tubi ini disebut dengan istilah ngaka, yang menandakan pengepungan sedang terjadi. Anjing-anjing tersebut akan terus menggonggong dan menekan posisi binatang buruan sampai binatang itu terdesak dan bertahan di satu titik.

Ada aturan yang kami pegang bahwa kami belum boleh membunuh binatang tersebut jika ia masih dalam keadaan bergerak atau berlari saat digonggong. Kami harus menunggu sampai anjing-anjing pemburu benar-benar sudah berkumpul dan berhasil membuat babi tersebut berhenti atau bertahan di tempatnya. Istilahnya, babi tersebut harus dalam posisi "lepas" atau terpojok sepenuhnya sebelum kami melakukan tindakan terakhir.

Disitulah saat yang tepat bagi kami untuk mendekat dan membunuh babi yang sudah terdesak oleh kepungan anjing-anjing kami. Setelah binatang buruan tersebut berhasil ditumbangkan, tubuhnya kemudian diangkat secara gotong-royong untuk dibawa kembali menuju pondok. Rasa lelah setelah mengejar buruan di tengah hutan seakan terbayar ketika kami melihat hasil yang akan dibawa pulang.

Sesampainya di pondok, suasana kebersamaan kembali terlihat saat kami membagi tugas untuk mengolah hasil buruan tersebut. Ada anggota kelompok yang bertugas menyiapkan perapian untuk mengasapi daging agar lebih awet dan tahan lama. Sebagian yang lain akan sibuk memotong daging dan memasaknya dengan bumbu-bumbu yang sudah dibawa dari rumah untuk dimakan bersama-sama pada malam itu.

Begitulah gambaran kehidupan kami pada zaman dahulu ketika kegiatan berburu masih menjadi bagian penting dari keseharian masyarakat. Semuanya dilakukan dengan penuh perhitungan, kerja sama tim yang solid, serta penghormatan terhadap aturan-aturan alam yang berlaku. Kenangan tentang bermalam di pondok dan aroma daging yang dimasak di tengah hutan tetap tersimpan rapi dalam ingatan kami hingga saat ini.