Pamali-pamali
Pamali-pamali
Dahulu kala hingga saat ini, masyarakat kita masih memegang teguh berbagai macam kepercayaan mengenai pantangan atau yang sering disebut dengan pamali. Pamali ini bukan sekadar larangan tanpa alasan, melainkan sebuah peringatan halus dari alam semesta agar manusia senantiasa waspada dalam bertindak. Aku sendiri merupakan salah satu orang yang sangat meyakini hal tersebut karena telah mengalami kejadiannya secara langsung dalam kehidupan pribadiku.
Salah satu pamali yang melekat erat pada diriku sendiri adalah larangan untuk mengonsumsi daging hewan tertentu, terutama kijang. Bagiku, makan daging kijang adalah sebuah pantangan besar yang tidak boleh dilanggar sama sekali. Jika aku nekat memakannya, tubuhku akan langsung bereaksi negatif dan aku akan jatuh sakit menderita demam yang cukup parah.
Selain pantangan mengenai makanan, ada pula jenis pamali lain yang berkaitan dengan tanda-tanda dari alam, seperti suara burung riuh. Masyarakat zaman dahulu sangat memperhatikan perilaku burung-burung di sekitar mereka untuk membaca tanda-tanda yang akan terjadi. Suara burung yang gaduh sering kali dianggap sebagai pesan atau peringatan akan adanya sesuatu yang tidak beres di lingkungan sekitar.
Peringatan alam yang paling kuat dan sangat diwaspadai adalah ketika seseorang mendengar suara burung elang di langit. Elang dianggap sebagai pembawa pesan penting, terutama bagi mereka yang hendak melakukan perjalanan jauh atau berpindah tempat tinggal. Jika elang bersuara nyaring tepat saat kita akan berangkat, itu adalah pertanda buruk yang tidak boleh diabaikan begitu saja.
Bayangkan saja jika kita sedang bersiap-siap untuk berangkat pindah, lalu tiba-tiba mendengar elang bersuara keras di atas sana. Elang tersebut terbang berputar-putar sambil mengibas-ngibaskan sayapnya seolah sedang memberikan peringatan kepada kita yang ada di bawah. Perilaku elang yang seperti itu merupakan tanda pamali yang sangat nyata bahwa rencana perjalanan tersebut sebaiknya ditunda.
Kejadian ini benar-benar terbukti kebenarannya sesuai dengan apa yang sering dikatakan oleh orang-orang tua zaman dahulu kepada anak cucunya. Aku memiliki sebuah pengalaman pribadi yang sangat membekas ketika aku membantu memindahkan saudaraku ke daerah Santen. Saat itu, kami sedang dalam proses pindah rumah dan harus menyeberangi perairan untuk mencapai tujuan yang baru.
Ketika kami sedang berada di tengah perjalanan menyeberangi air, tiba-tiba seekor elang muncul dan bersuara dengan sangat kuat. Elang itu tidak hanya bersuara, tetapi juga mengepakkan sayapnya dan menari-nari tepat di atas kepala kami seolah sedang berkomunikasi. Suasana seketika berubah menjadi tidak nyaman karena kami menyadari bahwa itu adalah sebuah pertanda yang sangat serius.
Gerakan elang yang menari-nari dan suaranya yang melengking itu merupakan isyarat bahwa kepindahan saudara aku tersebut tidak akan membawa kenyamanan. Itu adalah sebuah pertanda bahwa dia tidak akan sukses atau tidak akan mendapatkan kebaikan di tempat tujuannya yang baru. Kami merasakan firasat yang sangat berat, namun proses kepindahan tersebut tetap berlanjut hingga sampai ke lokasi.
Benar saja, apa yang diisyaratkan oleh alam melalui burung elang itu akhirnya menjadi kenyataan yang sangat pahit bagi keluarga kami. Tidak lama setelah saudara aku itu sampai dan menginjakkan kaki di tempat yang baru, dia pun jatuh sakit dan langsung meninggal dunia. Kejadian tragis ini seolah mengonfirmasi kebenaran dari peringatan yang telah diberikan oleh elang saat di perjalanan tadi.
Peristiwa meninggalnya saudaraku itu membuktikan bahwa kisah-kisah yang diceritakan oleh orang tua zaman dulu bukanlah sekadar isapan jempol belaka. Mereka selalu berpesan agar kita senantiasa berhati-hati jika mendengar suara elang saat hendak memulai sebuah urusan besar. Suara elang tersebut adalah bentuk perlindungan alam agar kita terhindar dari musibah yang lebih besar jika kita mau mendengarkan.
Orang tua dulu sering berkata, "Hati-hati kalian kalau elang sudah bersuara," sebagai pengingat akan adanya pamali dalam keberangkatan. Jika tanda tersebut muncul, artinya kita dilarang keras untuk melanjutkan perjalanan atau pergi meninggalkan rumah pada saat itu juga. Melanggar perintah alam ini dipercaya dapat mendatangkan nasib buruk atau bahkan kehilangan nyawa bagi mereka yang mengabaikannya.
Itulah mengapa sampai sekarang aku selalu mengingatkan kepada siapa saja untuk menghormati pamali dan tanda-tanda dari alam di sekitar kita. Pengalaman pahit yang menimpa saudaraku menjadi pelajaran berharga bahwa manusia harus selaras dengan pesan-pesan yang dikirimkan oleh lingkungan. Begitulah kisah mengenai pamali, mulai dari pantangan makanan hingga tanda-tanda dari burung elang yang mengiringi langkah hidup kita.