Nusa kenyikap Pangkar Dikumpulkan oleh Adel

Betonong

Betonong

Betonong

5:21 menit

Dahulu kala, ada seorang pria yang pergi berburu ke dalam hutan rimba untuk mencari hewan buruan. Ia tidak pergi sendirian, melainkan membawa tujuh ekor anjing peliharaan yang menemaninya menyusuri semak belukar. Di tengah perjalanan, suasana hutan yang tenang tiba-tiba berubah menjadi riuh karena ketujuh anjing tersebut mulai menggonggong dengan sangat keras dan terus-menerus.

Pemburu itu merasa heran dan bertanya-tanya di dalam hatinya mengenai apa yang sebenarnya sedang digonggong oleh anjing-anjingnya. Ia mengikuti arah suara itu dan mendapati bahwa hewan-hewannya sedang mengerumuni sebuah pohon besar. Ternyata, anjing-anjing tersebut menggonggong ke arah pokok kayu ulin yang berdiri kokoh di tengah hutan.

Melihat tingkah laku anjingnya yang tidak biasa tersebut, pemburu itu merasa bahwa pohon ulin ini memiliki keistimewaan tersendiri. Ia bergumam bahwa kayu dari pokok ulin ini harus dimanfaatkan untuk sesuatu yang berguna bagi kehidupan mereka. Setelah menandai tempat itu, ia pun segera pulang ke rumah untuk mengambil peralatan pertukangan yang dibutuhkannya.

Sesampainya di rumah, pria itu mengambil kapak dan beliung lalu kembali lagi ke dalam hutan untuk menebang pohon tersebut. Ia telah memikirkan sebuah rencana bahwa kayu ulin yang sangat kuat itu akan dibuat menjadi sumpit. Inilah asal mula mengapa kayu ulin pada zaman dahulu mulai digunakan dan diproses menjadi batang-batang sumpit yang panjang.

Batang sumpit dari kayu ulin tersebut ternyata memiliki banyak kegunaan bagi masyarakat, salah satunya adalah untuk keperluan betonong. Selain digunakan sebagai senjata berburu, sumpit ulin ini menjadi alat yang sangat penting dalam tradisi pengobatan dan ramalan. Kegunaan sumpit untuk betonong ini pun terus diwariskan turun-temurun hingga masih dikenal sampai sekarang.

Dalam praktik betonong, sumpit yang digunakan memiliki keunikan yang sulit dipercaya oleh akal sehat namun nyata adanya. Meskipun sumpit itu adalah benda mati, ukurannya seolah-olah bisa berubah-ubah seperti bisa dimainkan oleh kekuatan yang tidak terlihat. Sumpit tersebut terkadang tampak memanjang dan terkadang memendek saat dilakukan pengukuran menggunakan tangan.

Proses betonong ini dilakukan dengan cara mengukur sumpit menggunakan rentangan tangan yang direntangkan sepanjang jangkauan lengan. Sambil mengukur, biasanya diucapkan mamang atau mantra serta cerita-cerita tertentu yang disusul dengan pengukuran berulang kali. Jika hasil pengukurannya terasa memendek, maka dianggap bahwa jawaban atau petunjuk yang dicari belum masuk atau belum tepat.

Pernah dalam suatu pengukuran, sumpit tersebut dirasakan memanjang secara berlebihan hingga melewati batas yang semestinya. Pengukurannya bisa kelewatan jauh hingga ke tengah, seolah-olah melewati batas segala sesuatu. Hal ini membuat mereka yang menyaksikan merasa heran dan harus mengulangi proses pengukuran tersebut berkali-kali untuk mencari ketepatan.

Bahkan dalam kisahnya, pengukuran menggunakan sepanjang tangan itu bisa diulang sampai tiga kali karena hasilnya yang selalu berubah. Hingga pada akhirnya, setelah diukur dengan penuh ketelitian, panjang sumpit itu terasa pas tepat di tengah ujung jari. Jika ukurannya sudah stabil dan pas seperti itu, barulah mereka yakin bahwa itu adalah tanda yang bagus.

Tujuan utama dari tradisi betonong pada zaman dahulu adalah untuk mencari jalan keluar bagi orang yang sedang sakit. Melalui media sumpit tersebut, masyarakat akan mencari petunjuk mengenai siapa orang yang paling tepat untuk mengobati si sakit. Sumpit akan diukur sepanjang tangan untuk menunjuk dukun atau orang pintar yang cocok memberikan kesembuhan.

Jika sumpit tersebut diukur dan panjangnya berlebih tepat seukuran satu biji padi, maka itulah tandanya bahwa orang yang ditunjuk memang benar. Pengukuran yang berlebih satu biji padi tersebut menjadi bukti kuat bahwa orang tersebut memiliki keahlian untuk mengobati. Maka, orang yang terpilih melalui petunjuk sumpit itulah yang kemudian diminta untuk menjalankan pengobatan.

Setelah orang yang tepat ditemukan melalui media betonong, maka ia akan segera mengobati si penderita yang sedang tersiksa menahan sakit. Hasilnya, orang yang sakit tersebut biasanya akan langsung sembuh karena pengobatan yang diberikan dianggap cocok secara batiniah. Itulah sebabnya praktik ini tetap dipertahankan karena dipercaya mampu mencarikan obat yang mujarab di masa lalu.

Hingga saat ini, tradisi betonong ini pun masih tetap ada dan disimpan rapi oleh mereka yang tinggal di daerah hulu. Masih ada orang-orang tertentu yang menyimpan batang sumpit kayu ulin khusus untuk keperluan menolong orang yang sakit. Sumpit tersebut digunakan sebagai sarana untuk menunjuk siapa yang bisa memberikan kesembuhan jika pengobatan biasa tidak membuahkan hasil.

Masyarakat pada zaman itu merasa sangat kagum dengan keahlian orang zaman dulu dalam membuat lubang pada batang kayu ulin yang sangat keras. Sangat sulit dibayangkan bagaimana mereka bisa melubangi kayu sekeras itu untuk dijadikan sumpit yang lurus sempurna. Batang sumpit tersebut selain untuk betonong, tentu saja digunakan pula untuk menyumpit hewan seperti kelempiau atau lutung merah di atas pohon.

Pencarian orang yang cocok untuk mengobati orang sakit melalui tonong memang menjadi hal yang sangat penting pada masa itu. Tanpa bantuan tonong, seringkali keluarga merasa kewalahan dan tersiksa melihat anggota keluarganya yang tidak kunjung sembuh meski sudah dicoba berbagai cara. Dengan adanya petunjuk dari sumpit kayu ulin tersebut, harapan untuk sembuh menjadi terbuka lebar bagi masyarakat.