Nusa Kenyikap Pangkar Dikumpulkan oleh Adel

Cet inai 3

Cet inai 3

Cet inai 3

3:37 menit

Dahulu kala, hiduplah seorang ibu bersama anaknya yang bernama Cet Inai di sebuah pemukiman yang memiliki rumah betang. Pada suatu hari, sang anak merasa sangat lapar dan terus-menerus memanggil ibunya untuk meminta makan. Namun, sang ibu saat itu sedang sibuk bekerja menebas semak di ladang dan tidak segera memedulikan permintaan anaknya tersebut.

Sang anak tidak menyerah dan terus mengikuti ibunya sambil merengek meminta perhatian agar segera disiapkan makanan. "Cet Inai," panggil sang anak, namun ibunya hanya menjawab untuk menunggu sebentar karena ia masih harus menyelesaikan pekerjaannya menebas. Setelah selesai menebas dan kembali ke rumah, sang ibu ternyata masih memiliki tumpukan pekerjaan lain yang harus dikerjakan.

Ketika sang anak kembali meminta makan, sang ibu beralasan bahwa ia masih harus menjemur hasil ladangnya di bawah terik matahari. Tidak lama kemudian, sang ibu juga berkata bahwa ia harus pergi memanen hasil tanaman yang sudah siap petik di ladang mereka. Sang anak terus saja membuntuti ibunya sambil merengek, namun sang ibu tetap mengutamakan pekerjaan panennya daripada memberi makan anaknya.

Rasa lapar yang dialami Cet Inai semakin menjadi-jadi, sehingga ia kembali mendekati ibunya untuk meminta nasi. Ibunya lagi-lagi menunda dan menyuruh anaknya bersabar dengan alasan bahwa ia sedang sibuk memasak di dapur. "Nanti dulu anakku, aku masih memasak," jawab sang ibu dengan nada yang seolah-olah tidak menganggap serius rasa lapar yang diderita anaknya.

Permintaan makan itu terus diulang-ulang oleh si anak karena perutnya sudah terasa sangat perih dan keroncongan. Ibunya tetap pada pendiriannya dan mengatakan bahwa nasi yang sedang dimasak di atas api belum juga matang. Setiap kali Cet Inai datang meratap ingin makan, sang ibu selalu memberikan alasan yang sama untuk menunda dan tidak segera menyiapkan hidangan.

Karena terus-menerus ditunda dan tidak kunjung diberi makan, Cet Inai akhirnya merasa sangat putus asa dan kelelahan karena terus mengemis nasi. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk mengganjal perutnya yang kosong melompati rasa lapar yang hebat. Dalam keadaan yang sangat lapar dan sedih, ia melihat ada potongan bambu yang sudah terbelah di sekitarnya.

Karena rasa lapar yang sudah tidak tertahankan lagi, Cet Inai mencoba memakan bambu yang sudah terbelah tersebut secara paksa. Akibat tindakannya itu, lidahnya pun terluka parah terkena tajamnya sembilu bambu yang ia masukkan ke dalam mulutnya. Setelah melakukan hal menyedihkan tersebut, ia kemudian pergi bersembunyi dan menggulung dirinya di dalam selembar tikar.

Setelah beberapa lama, sang ibu akhirnya menyelesaikan semua pekerjaannya dan mulai teringat akan anaknya yang tadi terus meminta makan. Ia memanggil-manggil nama anaknya ke seluruh penjuru rumah, namun tidak ada jawaban yang terdengar dari mulut si anak. Sang ibu mulai merasa cemas dan mencari Cet Inai hingga ke pojok-pojok ruangan dan ke berbagai tempat lainnya di sekitar rumah.

Pencariannya akhirnya terhenti ketika ia melihat sebuah gulungan tikar yang tergeletak di lantai rumah mereka. Dengan rasa penasaran yang bercampur takut, sang ibu perlahan-lahan membuka gulungan tikar tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Betapa hancur hatinya saat mendapati anaknya, Cet Inai, sudah dalam keadaan meninggal dunia di dalam tikar itu.

Sang ibu berteriak histeris meratapi kematian anaknya yang tewas dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Ia menduga bahwa anaknya meninggal karena kempunan, yaitu sebuah keadaan celaka atau sial karena keinginan untuk makan tidak terpenuhi. Setelah puas meratap, sang ibu sadar bahwa ia harus segera mencari tempat untuk menguburkan jenazah anaknya tersebut.

Ia mencoba mencari tanah untuk pemakaman, namun banyak orang yang menolak memberikan lahan di sekitar rumah mereka. Ada yang beralasan bahwa tanah di bawah kolong rumah sering diseruduk babi, sementara tanah di dekat kaki tangga sering dibias atau dikais oleh ayam. Orang-orang di sekitar situ juga menganggap pamali atau tabu jika jenazah Cet Inai dikuburkan di dekat area tempat tinggal mereka.

Dalam kebingungannya karena tidak ada yang mau memberi tanah, sang ibu akhirnya pergi menemui seseorang yang bernama Preyah. Ia memohon dengan sangat agar Preyah bersedia meminjamkan sedikit lahan untuk menguburkan jenazah Cet Inai yang malang. Preyah akhirnya merasa iba dan mengizinkan sang ibu untuk mengambil sebidang tanah di tempatnya sebagai lokasi penguburan.

Setelah mendapatkan izin dari Preyah, sang ibu segera menguburkan anaknya di lokasi yang telah ditunjukkan tersebut. Selesai urusan pemakaman, ia kembali ke rumahnya dengan langkah kaki yang berat dan penuh penyesalan yang mendalam. Sepanjang jalan di rumah betang, sang ibu terus menangis tersedu-sedu meratapi nasib anaknya yang telah tiada.

Ia terus mengenang bagaimana anaknya meninggal karena kempunan akibat kelalaiannya sendiri yang tidak segera memberi makan. Sang ibu merasa sangat berdosa karena setiap kali anaknya minta nasi, ia selalu menunda dan membiarkan anaknya menderita lapar sendirian. Penyesalan itu terus menghantuinya karena ia telah kehilangan anaknya untuk selama-lamanya hanya karena urusan makan yang diabaikan.