Nusa Kenyikap Sriyuda Dikumpulkan oleh Tino

Mapah Moyah

Mapah Moyah

Mapah Moyah

9:09 menit

Aku akan memulai sebuah cerita tentang perjalanan hidupku yang penuh dengan ketidakpastian arah dan tujuan. Saat ini usiaku sudah tergolong lumayan matang, yaitu empat puluh dua tahun, sebuah rentang waktu yang cukup untuk mengumpulkan banyak kisah. Jika menengok kembali perjalanan di tanah Kalimantan Barat ini, bisa dibilang hampir seluruh wilayah sudah pernah aku jejaki satu per satu. Hanya ada dua kabupaten saja yang hingga saat ini belum sempat aku datangi, yaitu Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang.

Bagiku, perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah pengalaman berharga tentang jalan yang tidak menentu. Aku merasa perlu untuk melihat bagaimana daerah orang lain dan bagaimana kondisi setiap kabupaten, karena setiap tempat pasti memiliki perbedaan yang unik. Dari satu ujung ke ujung lainnya, aku telah menyusuri jalan Trans Kalimantan yang menyimpan sejuta kenangan. Cerita perantauanku ini bermula pada tahun dua ribu empat, saat aku memutuskan untuk pergi mengadu nasib ke Pontianak.

Keputusanku ke Pontianak pada waktu itu adalah untuk mengikuti orang dan mencoba mencari ilmu sedikit-sedikit di sana. Sebagai orang kampung, aku tidak memiliki hal yang perlu disembunyikan saat pertama kali menginjakkan kaki di kota besar itu. Aku merasa sangat takjub sekaligus bingung melihat pemandangan lampu-lampu kota yang menyala dengan sangat terang di setiap sudut jalan. Di mataku yang terbiasa dengan kegelapan kampung, Pontianak terasa seperti tempat yang tidak mengenal perbedaan antara siang dan malam.

Selama kurang lebih satu bulan menetap di Pontianak, aku mulai merasa kebingungan dengan tata letak kota yang penuh dengan persimpangan. Aku sempat bertanya kepada teman mengenai arah jalan pulang karena merasa semua simpang di sana terlihat sama saja. Sebagai orang Dayak kampung yang baru pertama kali merantau, aku sering kali tersesat dan kehilangan arah saat mencoba menyusuri jalanan kota. Rasanya sangat sulit bagi diriku untuk mengenali jalan pulang ke tempat tinggalku di tengah keramaian itu.

Memasuki bulan kedua, aku mulai berusaha lebih keras untuk mencari tanda-tanda jalan yang mengarah balik ke arah Pinoh. Aku sering memperhatikan papan petunjuk jalan yang bertuliskan "Selamat Datang" dan "Selamat Jalan" sambil berpikir keras mengenai maknanya. Ada perasaan ragu yang muncul di dalam hati, apakah aku akan bisa kembali lagi ke kampung halaman suatu saat nanti. Kekhawatiran itu semakin besar karena setelah dua hingga tiga bulan mengikuti teman berkeliling, aku tetap saja belum hafal jalan pulang.

Ketakutan akan terjebak selamanya di Pontianak sempat menghantui pikiranku saat itu. Namun, seiring berjalannya waktu, pergaulanku semakin luas dan aku mulai mendapatkan banyak teman baru yang juga berasal dari kalangan sesama orang Dayak. Melalui interaksi dengan mereka, perlahan-lahan aku mulai memahami seluk-beluk kota dan mengetahui jalur mana yang harus diambil jika ingin pulang. Akhirnya aku menetap di Pontianak dalam waktu yang cukup lama, kurang lebih selama tujuh tahun lamanya.

Selama tujuh tahun menetap di kota tersebut, aku menyempatkan diri untuk berjalan-jalan mengunjungi berbagai kabupaten di sekitarnya. Aku pernah mengunjungi Kabupaten Sambas, Bengkayang, hingga Kabupaten Landak yang memiliki kesan tersendiri bagiku. Alasan aku sering ke Landak adalah karena istriku merupakan orang asli sana, sehingga daerah itu terasa sangat akrab. Selain itu, aku juga pernah menempuh perjalanan jauh hingga ke Kabupaten Kapuas Hulu, melewati daerah Sanggau dan Sekadau yang memang menjadi jalur utama.

Pengalaman merantau dan berjalan tanpa tujuan pasti ke tempat orang memberikan banyak pelajaran serta pemandangan yang tidak ada di kampungku. Aku melihat banyak hal baru yang memperkaya sudut pandangku tentang kehidupan di luar sana. Dari segala perjalanan itu, aku belajar untuk mengambil hikmah yang baik-baik saja dan membuang segala hal yang buruk. Aku teringat kembali kenangan saat memutuskan untuk pulang ke kampung halaman lewat jalur darat yang penuh tantangan.

Pada sekitar tahun dua ribu enam, kondisi jalan Trans Kalimantan, terutama jalur dari Ngabang menuju Tayan, masih sangat hancur dan memprihatinkan. Saat itu aku memutuskan untuk pulang ke arah Pinoh melewati jalur tersebut meskipun kondisinya sangat tidak mendukung. Sebagian besar jembatan yang kami lalui masih berupa jembatan kayu yang terlihat sangat rapuh dan berbahaya. Perjalanan tersebut kami tempuh melewati daerah Tanjung Hulu agar bisa tembus langsung ke jalan utama Trans Kalimantan di Tayan.

Saat sampai di ujung Kampung Jawa, kendaraan yang kami gunakan mulai mengalami kerusakan sehingga membuatku sempat patah semangat. Aku sempat mengajak teman seperjalananku untuk berbalik arah saja karena merasa medan yang akan dihadapi akan semakin sulit. Namun, temanku dengan penuh keyakinan mengajakku untuk terus mencoba karena dia merasa tujuan kami sudah semakin dekat. Akhirnya kami pun sepakat untuk melanjutkan perjalanan meskipun harus menghadapi risiko yang ada di depan mata.

Ujian kembali datang ketika hujan deras mengguyur saat kami berada di pertengahan jalan menuju arah Enggang Raya. Temanku sempat mengajak untuk menginap saja di tengah jalan karena cuaca yang semakin buruk dan tidak memungkinkan untuk lanjut. Namun, kali ini giliran aku yang bersikeras untuk terus menerobos hujan karena keinginan yang kuat untuk segera sampai di rumah. Kami terus memacu kendaraan menerobos badai hingga akhirnya sampai di Simpang Ampar dan menemukan jalan yang lebih bagus menuju Sosok.

Banyak pengalaman pahit dan manis yang telah aku rasakan selama menjalani kehidupan di perantauan hingga sekarang. Menurutku, enak atau tidaknya sebuah pengalaman hidup itu sebenarnya tergantung pada cara kita membawanya dalam diri sendiri. Hal yang enak harus kita simpan dan pakai sebagai pelajaran, sedangkan yang tidak enak sebaiknya kita buang jauh-jauh. Aku pun pernah merasakan berada di posisi kalian yang saat ini mungkin sedang menempuh pendidikan di semester empat atau enam.

Masa-masa terakhir dalam menempuh pendidikan atau mencapai sebuah tujuan memang merupakan bagian yang paling berat untuk dilalui. Ibaratnya, nasi sudah berada tepat di depan mulut dan siap untuk dimakan, namun bisa saja gagal masuk karena berbagai kendala di akhir. Apa yang kalian alami sekarang sebenarnya kurang lebih sama dengan apa yang kami rasakan dulu saat berjuang mencapai sesuatu. Bedanya, zaman sekarang terasa sedikit lebih mudah karena adanya kemajuan teknologi yang sangat membantu aktivitas manusia.

Barang yang kalian sebut sebagai handphone atau HP ini memiliki fungsi yang sangat luar biasa bagi kehidupan saat ini. Pada zaman perantauanku dulu, barang ini belum umum digunakan dan hanya orang-orang yang sangat mampu saja yang bisa memilikinya. Kami dulu masih menggunakan HP kecil yang dianggap orang kampung tidak memiliki faedah, padahal sebenarnya sangat berguna. Sekarang, hanya dengan duduk saja, kalian sudah bisa mendapatkan berbagai informasi dari seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat.

Dulu, untuk mendapatkan informasi dari kampung, kami harus bersusah payah mencari cara atau mengirim surat secara fisik. Surat menyurat menjadi satu-satunya alat komunikasi jarak jauh karena belum adanya perangkat canggih yang bisa dibawa ke mana-mana. Orang tua kami di kampung harus bekerja keras di ladang atau menoreh karet untuk bisa membiayai kebutuhan kami. Sebagai anak hulu yang merantau ke kota, kami sering merasa minder dan dibilang kampungan, atau bahasa Kebahannya adalah orang kampung yang benar-benar tertinggal.

Meskipun merasa malu, keinginan yang kuat untuk mencari pengalaman baru mengalahkan rasa minder yang ada di dalam hati. Aku tidak ingin kita sebagai orang Dayak tertinggal terlalu jauh dari kemajuan yang dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di kota. Saat ini teknologi sudah berkembang sangat luar biasa, namun kita harus bijak dalam menggunakannya agar tidak merugikan diri sendiri. Jika kita bisa menggunakan teknologi dengan baik, maka hidup akan terasa lebih enak, namun jika salah menggunakannya, hidup justru akan menjadi sulit.

Kisah perjalananku ini adalah gambaran tentang bagaimana perjuangan seorang anak daerah dalam menghadapi perubahan zaman. Teknologi seperti HP adalah alat yang sangat kuat, tergantung siapa yang memegangnya dan untuk apa alat itu digunakan. Aku berharap kalian bisa memetik pelajaran dari ceritaku yang tidak menentu ini untuk dijadikan bekal di masa depan. Mungkin sekian cerita dari pengalamanku, dan sekarang giliran kalian yang memilih jalan hidup masing-masing.